:(

Kangen rasanya ma ponakan-ponakan ku. Apalagi dengan mia. hikss.. Tapi mau datang ke rumahnya, rasanya lebih baik ku kubur keinginan ku untuk melihat ponakan-ponakan ku. Menunggu mereka yang datang ke kontrakan adalah harapan satu-satunya. Kejadian pahit itu tak ku pungkiri sangat membekas di hatiku. Susah sekali menghapuskan rasa sakit, penghinaan yang ku dan mungkin juga dirasakan adik-adik ku terhadap ayah ponakanku itu. Bahkan bisa dikatakan, kata-kata makian dan pengusiran itu baru ku alami dari dia. akkhhhh...mungkin hati tak sesakit ini jika perlakuan itu ku terima dari orang lain.
Tapi dia, dia sudah menjadi bagian dari keluarga. Apapun alasan kemarahannya saat itu, sangat tak bisa ku terima oleh akal sehatku. Yang ku lihat saat itu, adalah dia menganggap kami adalah pembantu yang bisa diperlakukan kasar begitu. Seperti ada haknya untuk melemparkan penghinaan itu di muka ku. Tapi apa yang membuat dia merasa berhak? Kami numpang di rumahnya? seingatku, ayahku turut andil untuk membayar sewa rumah tinggal itu. Kami makan gratis dari keringatnya? Ini lebih tidak masuk akal, karena aku juga masak di rumah itu, yang bukan dariuangnya. Lalu apa? Soal bersih-bersih rumah, cuci piring, dan pakaian juga menjadi tanggung jawab adek-adek ku. Yah wajar kan, kalau ada kalanya mereka yang ambil alih kerjaan itu? Kan kami juga tidak seharian kerjanya hanya santai di rumah. Kalau begitu keadaanya baru lah dia berhak marah bahkan ya mengusir juga pasti batin ini menerima. Tapi ini? Aku bekerja, pargi pagi, pulang sore, adik ku kuliah dan sekolah, yang jadwalnya tak jauh beda dengan ku. Trus itu juga menjadi tanggung jawab kami untuk buat itu rumah selalu kinclong, dan makanan selalu tersedia saat dia pulang? T* Ni Huting i alang!!! Aishhh sudahlah, semakin panjang tulisan ini, semakin menyeruak pula kebencian itu lagi. Menangis pun aku tidak sudi.
Ya, semoga lah semakin bahagia kehidupan mu tanpa kami di rumahmu (meskipun awalnya, kau juga yang meminta kami datang, bahkan sampai mengumpat kau karena kami sempat menolak untuk datang. Tapi nyatanya kau juga yang menendang kami keluar). Yah, biarlah...,aku terima perlakuan mu ini. Tapi untuk memaafkan dan melupakan, entah lahh. Lebih baik menghapus memory bahwa kau pernah ku kenal di dunia ini..

Related Post :