Emon, menjadi perbincangan diantara segelintir pelaku pelecehan seksual yang terblowup dikarenakan korban-korbannya yang sudah mencapai ratusan orang. Berdasarkan pengakuan emon tercatat 120 nama anak korban pelampiasan birahinya yang dicatat dalam sebuah buku kecil.
Tampilkan postingan dengan label INFO. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label INFO. Tampilkan semua postingan
Iseng lagi nyantai di tempat kerja, pikiran pun ngelantur kemana-mana. Saat ini, pikiran lagi bermuara di suatu tempat hening nan kelam, dimana hanya terlihat seorang wanita dan pria di sana. Mereka dan aktivitas mereka masing-masing, dengan segala perbedaannya, memberikan suatu keheranan tersendiri dalam pikiran, kenapa ya?
Dari pengamatan pikiran, ada beberapa hal yang dimiliki wanita tapi tidak oleh pria. Bahkan cenderung lebih memberatkan posisi si wanita. Kesannya, wanita lebih banyak menanggung hal-hal yang tidak enak atau lebih kompleks dibanding pria.
Dari pengamatan pikiran, ada beberapa hal yang dimiliki wanita tapi tidak oleh pria. Bahkan cenderung lebih memberatkan posisi si wanita. Kesannya, wanita lebih banyak menanggung hal-hal yang tidak enak atau lebih kompleks dibanding pria.
Gak Percaya?
Lihat deh hasil pengamatan si pikiran di bawah ini.
Lihat deh hasil pengamatan si pikiran di bawah ini.
- Underware.
Dari sisi ini, tentunya kita tahu kalau pria hanya membutuhkan satu underware saja untuk menutupi bagian vital di tubuhnya, sedangkan wanita dua.
- Penyakit
Dalam hal ini, pikiran dapat menguraikan lebih banyak point-point mengenai penyakit yang diderita wanita tapi tidak oleh pria. Contoh : Kanker. Penyakit ini bisa diderita oleh siapa saja, dari segala usia. Namun ada jenis penyakit kanker yang umunya hanya diderita oleh wanita, yaitu kanker payudara. Padahal pria juga punya kan, meski ukurannya relatif lebih kecil dibanding ukuran payudara wanita.
Selain kanker, wanita juga mengalami siklus yang menyakitkan setiap bulannya, yaitu "menstruasi". Kadar rasa Sakit akibat siklus ini memang dirasakan berbeda-beda oleh setiap wanita. Tapi setidaknya, pria tidak pernah mengalami sakit yang begini. Belum lagi sakit saat masa kehamilan dan saat melahirkan, wuihhh,,,katanya sakitnya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Gak main-main taruhannya nyawa. Sedangkan pria?
- Pekerjaan
Masa emansipasi, membuat perubahan terkait pekerjaan antara wanita dan pria. Umumnya sekarang ini, apa yang dilakukan oleh pria bisa juga dilakukan oleh wanita dan sebaliknya. Namun meskipun begitu tetap ada pekerjaan yang wanita dituntut untuk bisa sedangkan pria tidak.
Pekerjaan rumah tangga. Terkait hal ini, wanita diwajibkan harus bisa menangani segala macam pekerjaan rumah tangga, ya cuci piring, sapu rumah, memasak, menyetrika dsb. Sedangkan pria? Ada pemakluman tersendiri jika mereka tidak membersihkan kamarnya, tidak merapikan isi lemarinya. Jika hal serupa dilakukan wanita, maka cibiran dan teriakan ayah atau ibu akan terngiang setiap harinya.
well, sepintas pikiran menyimpulkan, ternyata wanita lebih banyak tidak enaknya dibanding pria. Namun, saat itu juga pikiran menyadari bahwa sesungguhnya wanita itu lebih tangguh dibanding pria. Lihat saja, dari serangkaian uraian di atas. Tanpa hadirnya seorang wanita di sisi pria, bisa dipastikan akan ada ketimpangan dalam hidupnya.
Pertanyaan tersebut terlontar karena banyak sekali kata selamat tahun baru yang tertuju padaku, terutama dari saudara tetangga, namun saat ku membalas selamat tahun baru kembali, seolah mereka tidak merasa turut bertahun baru. Lah????Kok???? Malah, pimpinanku, mengucapkan selamat tahun baru pada pegawai yang hanya beragama kristen.
saya jadi bertanya-tanya.
Sepengetahuan saya, 1 Januari tidak lah merupakan salah satu hari perayaan umat kristen dalam tata agamanya. Tapi mengapa seakan menjadi perayaan umat kristen semata? Dan jika diperhatikan, kue-kue penyemarak tahun baru pun kerap ada di mereka yang berkeyakinan Kristen. Jarang sekali kemeriahan tahun baru yang dijalankan umat kristiani itu sama dengan umat lainnya. Padahal harusnya tidak begitu kan? Setiap orang kan melewati pergantian tahun.
Asumsi saya, kebiasaan yang salah ini kemungkinan dikarenakan jarak antara perayaan Natal (tgl 25 Desember) dan tahun baru (tgl 1 Januari), yang memang berdekatan. Lebih lagi kepada kebiasaan saat mengucapkan selamat Natal, pasti selalu dibarengi dengan kata selamat tahun baru juga. Beranjak dari ini mungkin anggapan tahun baru hanya dirayakan secara wah oleh umat kristen (terkesan memang perayaan keagamaan umat kristen) kian berkembang.
Read More >>
Rasa kecewa pastinya pernah dirasakan setiap orang. Terlebih oleh kita yang selalu punya harapan. Loh? Bukannya itu positif?
Ya, tentu saja, hidup akan tetap menjadi hidup jika kita tetap punya harapan dalam diri. Tapi jangan salah bahwa harapan ini juga sering menghantarkan kita pada kekecewaan. Apalagi ketika harapan itu kita gantungkan pada orang lain. Berawal dari sini lah rasa kecewa itu.
Berharap kepada orang lain tidak lah salah, apalagi orang yang padanya harapan itu kita gantungkan adalah keluarga, shabat atau pacar sendiri. Jangan sampai harapan itu juga berlebihan. Ingatlah, manusia banyak keterbatasannya, tidak seperti TUhan yang mampu mewujudkan apapun sepanjang harapan itu berkenan bagiNYA.
Nah, sedikit tips untuk membentengin diri agar terhindar dari rasa kecewa yang teramat menyakitkan.
Chexk this out!
1. MANDIRI
Membiasakan diri untuk bersikap mandiri akan sangat membantu kita terhindar dari kecewa. Mulailah melatih diri, untuk bisa mengerjakan hal-hal yang biasanya kita mengandalkan orang lain untuk membantu kita. Ya, jangan terlalu bergantung pada orang lain. Sekalipun perempuan. Perempuan juga mampu untuk mengerjakan pekerjaan berat pria jika perempuan memang mau melakukannya. Dengan kemandirian kita, maka aksi untuk menggantungkan harapan kepada orang lain pun bisa diminimalisir sehingga dengna sendirinya rasa kecewa itu sudah terantisipasi.
Bercerita mengenai lelaki idaman, tentunya setiap wanita yang belum menikah mengharapkan mendapat lelaki idaman. Lelaki idaman yang seperti apa? Tentunya, hal yang diharapkan setiap wanita akan senada dengan saya, bahwa lelaki idaman yang kami maksudkan adalah mereka yang akan memberikan kebahagiaan/kedamaian dalam mengarungi bahtera rumah tangga kelak. Mengenai materi yang mapan, sepertinya bukan lah prioritas utama kriteria lelaki idaman.
Lelaki idaman ini, saya percaya hanyalah satu saja tipenya di dunia ini, dan hal ini sudah menjadi objek yang langka. Kalau dalam blog lain kalian akan menemukan bahwa:
-lelaki idaman adalah yang jujur, berdedikasi, bertanggung jawab penuh,bisa diandalkan, mapan, tampan, tulus, de el el.
Namun pandangan saya, lelaki idaman itu cuma berciri satu saja, yaitu:
-CINTA TUHAN
Jika ada pria yang sungguh-sungguh mencintai Tuhannya maka dia lah pria idaman. Tiada hal yang lebih berharga daripada kecintaan kepada sang Khalik.
Apa yang ada dalam benak pembaca melihat gambar itu? Tempat apa kah itu? Jika pembaca adalah warga medan tentunya sudah tahu tempat yang saya maksudkan. Temat itu dikenal dengan nama Marian Shrine Of Annai Velangkanni Medan atau singkatnya sering disebut velangkani saja oleh warga sekitar. Bangunan ini terletak di jalan Sakura III No. 10 Tanjung Selamat Medan.
Tempatnya sendiri tidak jauh dari rumah kontrakan ku saat ini (daerah Pasar Melati). Cukup ditempuh dalam waktu 10 menit kalau menggunakan transportasi umum-angkot. Biaya juga tidak mahal, cukup Rp 2.000 saja, saya bisa menyaksikan tempat yang unik. Bagaimana tidak unik, saat melihat bentuk bangunan saya tidak akan menyangka itu adalah Gereja Katolik. Bangunan yang menyerupai pura tentunya tidak akan disangkakan oleh ku atau mungkin yang baru kali pertama melihatnya adalah sebuah tempat ibadah umat katolik.
Untuk masuk ke lokasi sendiri tidak dibatasi umur jenis kelamin atau pun agama. Saya rasa siapa saja bisa melihat lokasi, karena kita tidak ada melewati penjagaan saat di pintu masuk.
Dilihat dari dekat, ternyata tidak hanya bangunan menyerupai pura, ternyata sisi bangunan juga ada yang menyerupai mesjid dan juga kuil. Ternyata, dari penjelasan yang saya baca mengenai pembangunan gereja itu,memang ada pembangunan di desain demikian untuk simbolisasi persatuan ke-5 agama yang berbeda di negeri ini. Unik memang, dan bukan hal biasa yang saya pernah temui.
Tapi saat berada di sana, kesan khusuk sendiri tidak saya dapatkan, entah mungkin juga dipengaruhi bagian-bagian abngunan yang berbeda jdai saya tidak merasa sedang dalam gereja.
Perbincangan singkat dengan teman kos sang kekasih mengenai adat pernikahan di suku mereka menyampaikan ku kepada kesimpulan bahwa begitu banyak persamaan antara adat pernikahan di suku ku dan adat pernikahan di rote ndao. Apa yang menyamakan???
Hal yang paling mencolok dalam pembicaraan singkat itu, ialah adanya suatu prosesi dalam adat yang disebut dengan sinamot (dalam Batak) dan belis (dalam rote). Apa itu?
Sinamot atau pun belis adalah istilah pemberian mahar dari pihak keluarga pria kepada keluarga mempelai wanitanya. Pemberian sinamot atau belis yang biasanya dalam bentuk uang ini adalah simbol bahwa pihak perempuan menyetujui anak perempuannya dipinang oleh sang calon mempelai lelaki. Pemberian sinamot sendiri dalam suku batak (batak toba khususnya) ditandai dengan pertemuan antara kedua belah pihak keluarga yang dikenal dengan kegiatan martupol (tunangan).
Dalam sesi ini biasanya terjadi tawar menawar antara keluarga pria terhadap tawaran yang diajukan keluarga wanita (ataupun sebaliknya).
Sebagian orang yang belum mengenal adat pernikahan suku batak atau pun rote pastinya menyangka bahwa terjadi proses jual beli karena adanya sesi sinamot dan belis ini sendiri. Tapi tidak lah bermakna demikian. Pandangan saya leluhur terdahulu terpikir untuk mengadakan sesi ini dalam proses pernikahan adalah sebagai simbol bahwa martabat wanita dalam suku batak sangat lah dihargai. Tidak sembarang untuk bisa meminang wanita dari suku kami. Begitu banyak tahapan yang harus dilalui sampai dikatakan syah sebuah pernikahan dalam sisi adat maupun agama. Kalau saya pikir sih meski sering memberatkan pihak pria tapi dampak positif bisa dirasakan pasangan yang menikah ini. Rangkaian adat yang ribet ini lah nanti yang membuat pasangan untuk berfikir lagi jika mau bercerai.
Banyak orang yang dilibatkan, dan memerlukan waktu yang tak sebentar juga untuk mempersiapkannya, tentunya menjadi pertimbangan lebih bagi pasangan yang hendak bercerai. Selain itu serangkaian adat yang banyak ini meiliki tujuannya sendiri yaitu bentuk dari penghormatan dan cinta kasih dari kedua orang tua, saudara sekandung, dan keluarga dekat, dan masyarakat sekitarnya serta mempererat hubungan cinta kasih dan kepedulian kedua orang tua/keluarga, saudara, kerabat dekat dan masyarakats sekitarnya kepada anaknya yang sangat dicintai.
Setelah tahapan marhata sinamot, masuklah ke tahapan-tahapan adat lainnya hingga sampai pada ujung kegiatan yaitu pemberkatan ala agama dan dilanjutan pemberkatan ala adat. Dan tahapan ini juga dibebankan pada pihak pria pembiayaannya. Adakalanya dalam pemberian sinamot dan belis pihak keluarga lelaki sudah memberikan biaya untuk pesta adatnya sekaligus. Disinilah letak persamaan lain kedua suku ini, yaitu membutuhkan uang yang tak sedikit untuk bisa melangsungkan pernikahan yang benar dari sisi masyarakatnya.
Melihat berita di salah satu stasiun tv swasta semalam,menyadarkan ku bahwa peminat paranormal bukanlah hal dari kalangan bawah saja, tapi kaum yang katanya intelektual itu pun butuh ritual-ritual yang disarankan sang sesepuh.
Kaum intelektual yang saya maksudkan adalah mereka yang berjuang memperebutkan satu kursi demi memperjuangkan (katanya) kepentingan rakyat dalam PEMILU/PILKADA. Hal ini saya saksikan lewat tayangan dalam stasiiun tv tersebut yang mewawancarai beberapa paranormal yang mengaku sering mendapat pasien untuk kepentingan memenangkan pemilihan (legislatif,gubernur,bupati,walikota,dll). Wow, ternyata perdukunan menjadi alternatif lain selain penyuapan. Hal senada juga terdengar lewat kasus bupati Atut, yang mana banyak paranormal berkomentar tentang posisi beliau. Banyak dari mereka sepakat, meski kasusnya sedang mencuat ke permukaan, namun posisi beliau akan susah tergoyah dikarenakan, kemistisan yang mendukung di belakangnya.
Wow, ngeri yahhh..
Tapi saya sich berharap hal itu hanyalah upaya si mereka yang menggunakan posisi itu untuk mencari dan membutuhi kehidupan untuk menaikan pamor mereka. Sungguh sangat tidak diharapkan pernyataan mereka ini nantinya malah memicu masyarakat yang lain untuk menempuh jalan dengan datang kepada mereka juga. Bahaya kalau sampai dukun menjadi profesi di negeri ini. Padahal negeri ini, negeri dengan beradatkan ketimuran dan berlandaskan agama. Tak main-main 5 agama teryakini di negeri ini. Apa jadinya jika paranormal/dukun lebih marak/digandrungi masyarakat negeri ini ketimbang meyakini Tuhannya masing-masing. Di mana posisi Tuhan mereka letakkan saat mereka berpikir untuk datang kepada dukun dan ahli nujum sejenisnya?
Kembali ke pada topik.
Maju mencalonkan diri dalam pemilihan memang punya resiko sendiri, disamping harus mengeluarkan modal yang besar, kans untuk terpilih pun tidak dapat terprediksi secara pasti sebelum KPUD mengumumkan sendiri hasil pemilihannya. Apa latar belakang ini yang mendorong mereka-mereka yang saya yakin adalah mereka yang berintelektual tetap membutuhkan semacam pegangggan untuk menang di pemilihan? Mereka beragama,dan pasti berpendidikan.
Saya sendiri pernah mengalami satu hal kecil yang hampir sama lah dengan posisi beliau-beliau. Saya, yang saat lulus SMP ingin sekali masuk ke SMA favorit, disarankan ibu kedua saya untuk minum semacam air suci untuk keberuntungan katanya. Tapi saya tidak menanggapi tawaran beliau. Saya menolak meminumnya, dan hasilnya memang saya tidak diterima di SMA itu.
Menyesal? tentu tidak. Bukan karena tidak minum air itu saya gagal.
"Bodoh emang dia tuh, sedangkan status menantu ponakan pejabat aja bisa kaya, lah dia adik ipar pejabat kok malah begitu-begitu saja hidupnya", cetus seorang pengembang.
Baru aku mengerti maksud ucapan yang sudah lama sekali ku dengar itu setelah ku melihat sendiri situasi di lapangan. Aku tinggal di salah satu kabupaten di sumatera utara. Mengenai birokrasi kepemerintahan daerah memang aku tidak begitu paham seperti apa prosedurnya. Namun pembenaranku terhadap ucapan si pengembang itu terbukti ketika ku bekerja dengan seorang yang mengenal baik pimpinan di suatu kabupate.
Aku sendiri memang masih berdomisili di kabupaten yang beliau pimpin. Dan tempat aku bekerja ini bisa dikatakan sumber pendapatan adalah dari kerjaan terkait kegiatan pemerintahan. Yang menjadi sorotan bagiku adalah, betapa beliau dipandang meskipun hanyalah seorang kerabat dekat saja (bukan bagian keluarga inti). Dan di pemerintahan itu sendiri banyak yang tau beliau.
Untuk mengurus segala sesuatu agar dipermudah pemerintah, kami biasanya tinggal sebut nama beliau. Namun meskipun namanya seolah punya andil, tidak serta merta kami bisa menyelesaikan urusan mulus tanpa UUD (ujung-ujungnya duit). Tidak.
Tetap amplop tersedia meski sekedar ukuran pejabat di sana. Jika tanpa penyebutan nama beliau, ku duga amplop yang disediakan haruslah tebal. Dan itu merata di setiap dina di sana. Bahkan sudah terprogram di benak-benak pegawai dengan status biasa. Dimana berkas itu berhenti, di situlah keberadaan si amplop. Jika tidak demikian, jangan harap urusan selesai hitungan minggu.
Mungkin hitungan tahun juga belum bisa dipastikan. Karena dari sekian banyak berkas yang masuk, tentunya berkas yang ditemani amplop lah yang akan disentuh terlebih dahulu. wow,mengapa sampai sebegitu parah sistem yang berlaku di dalam sana? Tidak ada kah lagi yang betul-betul bekerja sesuai dengan mandatnya? Malah hal yang terkadang tidak bisa ditolerir nurani adalah ketika suatu pekerjaan yang seharusnya tidak bisa diberikan ijin pembangunannya (terbentur ketetapan yang sudah terlanjur disusun), masih bisa terkompromikan jika amplopnya jelas.
Baru aku mengerti maksud ucapan yang sudah lama sekali ku dengar itu setelah ku melihat sendiri situasi di lapangan. Aku tinggal di salah satu kabupaten di sumatera utara. Mengenai birokrasi kepemerintahan daerah memang aku tidak begitu paham seperti apa prosedurnya. Namun pembenaranku terhadap ucapan si pengembang itu terbukti ketika ku bekerja dengan seorang yang mengenal baik pimpinan di suatu kabupate.
Aku sendiri memang masih berdomisili di kabupaten yang beliau pimpin. Dan tempat aku bekerja ini bisa dikatakan sumber pendapatan adalah dari kerjaan terkait kegiatan pemerintahan. Yang menjadi sorotan bagiku adalah, betapa beliau dipandang meskipun hanyalah seorang kerabat dekat saja (bukan bagian keluarga inti). Dan di pemerintahan itu sendiri banyak yang tau beliau.
Untuk mengurus segala sesuatu agar dipermudah pemerintah, kami biasanya tinggal sebut nama beliau. Namun meskipun namanya seolah punya andil, tidak serta merta kami bisa menyelesaikan urusan mulus tanpa UUD (ujung-ujungnya duit). Tidak.
Tetap amplop tersedia meski sekedar ukuran pejabat di sana. Jika tanpa penyebutan nama beliau, ku duga amplop yang disediakan haruslah tebal. Dan itu merata di setiap dina di sana. Bahkan sudah terprogram di benak-benak pegawai dengan status biasa. Dimana berkas itu berhenti, di situlah keberadaan si amplop. Jika tidak demikian, jangan harap urusan selesai hitungan minggu.
Mungkin hitungan tahun juga belum bisa dipastikan. Karena dari sekian banyak berkas yang masuk, tentunya berkas yang ditemani amplop lah yang akan disentuh terlebih dahulu. wow,mengapa sampai sebegitu parah sistem yang berlaku di dalam sana? Tidak ada kah lagi yang betul-betul bekerja sesuai dengan mandatnya? Malah hal yang terkadang tidak bisa ditolerir nurani adalah ketika suatu pekerjaan yang seharusnya tidak bisa diberikan ijin pembangunannya (terbentur ketetapan yang sudah terlanjur disusun), masih bisa terkompromikan jika amplopnya jelas.
Guru adalah satu profesi yang sangat aku hormati. Ku sangat salut bagi mereka-mereka dan kebanyakan teman ku yang berhasil dalam bidang ini. Berhasil dengan artian murid-murid yang diajarkannya sukses menerima pentransferan ilmu yang diberikan. Ku juga pernah mengecap profesi ini, namun aku tidak bertahan. Hanya satu tahun saja aku menjalaninya, itu pun dengan pertimbangan kasihan anak-anak atau pihak sekolah yang harus repot untuk mencari penggantiku lagi. Apalagi saat itu abang ipar yang nota bene adalah orang yang merekomendasikan ku supaya bisa diterima di mengajar di sana juga pengajar di sekolah tersebut. Lengkap sudah keengganan ku untuk segera keluar dari sekolah itu.
Jadwal mengajar ku memang tak banyak, seminggu paling aku masuk hanya 3 hari, karena aku hanya mengajar siswa/i kelas 1 SMP, sedangkan kakak-kakanya diajar oleh guru yang lebih senior dari ku. Pengalaman ku terjun ke dunia pendidikan sama sekali tidak ada, bahkan background perkuliahaan yang ku ambil pun bukanlah berorientasi menjadi pendidik. Tidak adanya pengalaman sama sekali membuatku harus mencari referensi sebanyak mungkin. Hampir setiap kali aku akan mengajar, pasti aku sudah membuat plan pribadi tentang materi yang akan ku sampaikan. Lalu sedikit browsing juga mengenai bagaimana mengajarkan materi bahasa inggris dengan cara yang menyenangkan. Banyak metode-metode yang aku coba terapkan, tapi aku tidak merasa puas dengan hasil akhirnya.
Ku dapati, hanya sedikit saja siswa/i yang memahami materi yang ku sampaikan. Itupun kebanyakan dari kelompok siswi saja. Metode yang pernah ku terapkan, metode belajar tenses lewat lagu, menambah vocabulary lewat permainan, bahkan lewat puzzle dan gambar-gambar lainnya. Namun tidak cukup membantu. Jangan kan untuk berhasil menyampaikan materi, menenangkan siswa pun aku kewalahan, terutama di kelas yang ku lihat mayoritas siswa/i-nya memang hanya memiliki sedikit motivasi untuk belajar. Pembawaanku yang tidak bisa berbicara lantang dan tegas ini pun, ku yakini menjadi kendala ku sendiri. Tapi pernah sekali ku lepas kendali memukul meja, namun anak-anak itu bukannya mengerti malah banyak yang senyum-senyum. Katanya, "miss gak cocok marah, mukanya gak seram". Haaa????? Aku pun tak tahu harus berkata apa lagi. Kondisi begini yang sering ku temui tiap kali berada dalam kelas, membuat ku mantap atas keputusan ku dengan tidak lanjut mengajar lagi.
Susah ternyata menjadi guru yang baik dan benar. Menjadi pahlawan bangsa adalah tugas yang berat. Timbul atau tidaknya keingintahuan siswa/i itu, adalah tanggung jawab guru. Namun melihat guru-guru sekarang, ku pikir tidak semua berprinsip begitu. Yang terlihat kasat mata, mereka melakoni peran sebagai guru, hanya karena memang itulah jalan mereka untuk mencukupi kebutuhan hidup. Guru-guru yang modelnya suka mencatat teori tanpa berperan lebih membantu siswa/i-nya untuk mengerti teori tersebut adalah tipe guru yang ku katakan tadi. Banyak guru-guru ku sewaktu SD, SMP, SMA dengan model seperti ini. Yang paling membahayakan adalah, model guru seperti ini, dipercaya untuk menyampaikan mata pelajaran eksakta. Bahaya sekali.
Hanya sedikit saja orang yang mencintai dunia eksakta. Sudah sedikit, ditambah lagi mendapat guru yang tidak begitu baik menyampaikan materi seperti diriku ini. Maka sudah bisa digambarkan, tidak akan ada lagi yang minat dengan eksakta ini. Aku sendiri menyukai matematika dan mulai mengerti sedikit matematika saat diajarkan oleh guru ku Ibu JD namanya. Pintar sekali beliau menjangkau muridnya yang bergam untuk secara bersamaan bisa memahami materi yang disampaikan. Baru saat diajar beliau, aku semangat belajar yang namanya matematika. Yang ku pikirkan saat itu adalah, jika sedari awal ku mengenal matematika ku diajarkan oleh guru seperti beliau, tentunya matematika tidak akan menjadi pelajaran yang paling tidak ku sukai (tertera dalam sekian banyak biodata yang pernah ku tulis). Dan jikalau saat awal ku mencintai matematika, tentu aku bisa menjadi seorang peneliti saat ini.
Kira-kira setelah membaca judul ada yang bingung tidak yah (seperti saya)? Saya meski pun berlatar belakang pendidikan sastra inggris namun jujur sebelum saya menuliskan postingan ini saya sudah lupa penggunaan mereka itu (maklum, makin banyak yang dibaca, makin banyak juga yang lupa => ngeles.com). Tapi setelah saya melihat sebuah situs pembelajaran EngVid, dengan cepat saya diingatkan kembali perbedaaan dan penggunaan mereka itu.
Dan saya ingin segera berbagi dengan khalayak (biar semakin ingat), x ajah ada yang kebetulan membutuhkan referensi terkait dengan judul di atas.
Yang akan saya sampaikan pertama sekali bahwa ada kata yang perlu dibuang diantar yang tertera dalam judul, yaitu Alot (tidak ada kata ini dalam bahasa inggris, jadi dikebumikan saja sebelum berbau (emang mayat, hehehhee) ). Jadi fokus kita tinggal pada kata "A lot, Lots, dan Allot".
Here we go....
A lot bisa diartikan dengan : sejumlah ....., sering, dan banyak (large of number of, often, many, much)
Eg:
1. I have a lot of barca's stuff or I have lots of Barca's stuff
2. I read a lot
Khusus untuk kata Allot sengaja saja pisahkan, karena memang artinya tidak sama dengan a lot dan lots of, penggunaannya jelas berbeda pula. Hanya dikarenakan ada kesamaan penulisan, supaya pengguna tidak akan berpikir kata ini adalah kata yang sama yang bermakna "banyak, sering, dan sejumlah tadi".
Jika diliat arti dalam kamus allot adalah : to assign, divide, distribute.
Eg:
I allot most of my time to look for job vacancy.
I need to allot more money to pay my school fee.
Jelas kan yahh..
Atau mungkin juga kita menjumpai kata "a whole lot", arti dan penggunaan kata ini sama saja dengan a lot dan lots of.
Berikut saya tulis ulang, soal terkait judul yang saya dapat dalam situs yang sama. Jika kalian sudah benar menjawabnya, tentu dapat ditarik kesimpulan bahwa kalian sudah mengerti tentang materi ini. Yeahh....Selamat2 :D
Read More >>
Dan saya ingin segera berbagi dengan khalayak (biar semakin ingat), x ajah ada yang kebetulan membutuhkan referensi terkait dengan judul di atas.
Yang akan saya sampaikan pertama sekali bahwa ada kata yang perlu dibuang diantar yang tertera dalam judul, yaitu Alot (tidak ada kata ini dalam bahasa inggris, jadi dikebumikan saja sebelum berbau (emang mayat, hehehhee) ). Jadi fokus kita tinggal pada kata "A lot, Lots, dan Allot".
Here we go....
A lot bisa diartikan dengan : sejumlah ....., sering, dan banyak (large of number of, often, many, much)
Eg:
1. I have a lot of barca's stuff or I have lots of Barca's stuff
2. I read a lot
Khusus untuk kata Allot sengaja saja pisahkan, karena memang artinya tidak sama dengan a lot dan lots of, penggunaannya jelas berbeda pula. Hanya dikarenakan ada kesamaan penulisan, supaya pengguna tidak akan berpikir kata ini adalah kata yang sama yang bermakna "banyak, sering, dan sejumlah tadi".
Jika diliat arti dalam kamus allot adalah : to assign, divide, distribute.
Eg:
I allot most of my time to look for job vacancy.
I need to allot more money to pay my school fee.
Jelas kan yahh..
Atau mungkin juga kita menjumpai kata "a whole lot", arti dan penggunaan kata ini sama saja dengan a lot dan lots of.
Berikut saya tulis ulang, soal terkait judul yang saya dapat dalam situs yang sama. Jika kalian sudah benar menjawabnya, tentu dapat ditarik kesimpulan bahwa kalian sudah mengerti tentang materi ini. Yeahh....Selamat2 :D
1. The newspaper will ______________
a page to advertisements.
- a lot
- alot
- lots
- allot
2. The school will ____________
$10,000 of its budget to new computers.
- allot
- alot
- lot
- lots
3. The school has __________
computers.
- a lot
- a lot of
- lots
- alot
- alloted of
4. My sister has __________ toys.
- allot
- lots
- lots of
- a lot
5. I've read ___________ books.
- whole a lot of
- a whole lot
- lots of whole
- a whole lot of
6. ____________ of children need
help with homework. Parents need to __________ more time to their children.
- A lot, allot
- Alot, allot
- Allot, a lot
- Allot, allot
7. You shouldn't ___________ all of
your time to work. You need to have fun too.
- a lot of
- lots
- allot
- alot
8. I spend ____________ time at the
library.
- allot
- a lot
- a lot of
- lots
9. Josh has alot of comic books.
Is this sentence correct?
Is this sentence correct?
- yes
- no
It should be 'a lot of'.
10. Mr. E has lots of dresses.
Is this sentence correct?
Is this sentence correct?
- yes
- no
key :4, 1, 2, 3, 4, 1, 3, 3, 2, 1
Excuse, Pardon, Sorry
Atasan ku menanyakanku perbedaan tiga kata di atas (sekedar menguji atau memang ingin tahu, aku pun tak berani beropini apa-apa). Namun saat itu yang ku utarakan padanya mengenai penjelasan itu, singkat saja, bisa dikatakan kulitnya saja. Saya menjelaskan, memang ketiganya diartikan untuk ekspresi ungkapan maaf. Tapi kalau boleh saya bilang, yang bisa dibandingkan hanyalah excuse dan pordon. Kalau sorry sudah jelas, diungkapkan karena contoh:
- bapak secara tidak sengaja melakukan sesuatu yang salah lalu kamu mengatakan "sorry, i didnt do it for any purpose".
- bapak merasa simpati atau iba terhadap sesuatu => i feel sorry for your family
Dan sangat tidak lazim jika kata sorry dalam kalimat itu, diganti dengan excuse atau pardon, karena memang penggunaan excuse dan pordon berbeda dengan penggunaan sorry.
Konkritnya begini, sorry digunakan atau kita ungkapkan ketika kita sudah melakukan kesalahan, sedangkan excuse dan pordon diungkapkan saat kita melakukan sesuatu yang mungkin saja tidak berkenan bagi orang lain.
Misalnya:
- bapak ingin menginterupsi suatu pecakapan => excuse me, i dont think it's a good solution.
- bapak ingin meninggalkan seseorang untuk waktu yang tak lama => excuse me, i need to wash my hand
- bapak tidak begitu mendengar perkataan seseorang => you're late/excuse me?/i said you're late.
(nah, di point ini kata pordon juga bisa digunakan => my name enny/ pordon me?/ my name enny. dan biasanya digunakan dalam bahasa spoken saja. Pordon juga lebih sering digunakan British english)
Sebatas itu saja yang bisa saya sampaikan kepada beliau, namun kerutan dahinya mengatakan apa yang ku jelaskan belumlah menjawab apa yang ditanyakannya. Some body help me? :D
Read More >>
Atasan ku menanyakanku perbedaan tiga kata di atas (sekedar menguji atau memang ingin tahu, aku pun tak berani beropini apa-apa). Namun saat itu yang ku utarakan padanya mengenai penjelasan itu, singkat saja, bisa dikatakan kulitnya saja. Saya menjelaskan, memang ketiganya diartikan untuk ekspresi ungkapan maaf. Tapi kalau boleh saya bilang, yang bisa dibandingkan hanyalah excuse dan pordon. Kalau sorry sudah jelas, diungkapkan karena contoh:
- bapak secara tidak sengaja melakukan sesuatu yang salah lalu kamu mengatakan "sorry, i didnt do it for any purpose".
- bapak merasa simpati atau iba terhadap sesuatu => i feel sorry for your family
Dan sangat tidak lazim jika kata sorry dalam kalimat itu, diganti dengan excuse atau pardon, karena memang penggunaan excuse dan pordon berbeda dengan penggunaan sorry.
Konkritnya begini, sorry digunakan atau kita ungkapkan ketika kita sudah melakukan kesalahan, sedangkan excuse dan pordon diungkapkan saat kita melakukan sesuatu yang mungkin saja tidak berkenan bagi orang lain.
Misalnya:
- bapak ingin menginterupsi suatu pecakapan => excuse me, i dont think it's a good solution.
- bapak ingin meninggalkan seseorang untuk waktu yang tak lama => excuse me, i need to wash my hand
- bapak tidak begitu mendengar perkataan seseorang => you're late/excuse me?/i said you're late.
(nah, di point ini kata pordon juga bisa digunakan => my name enny/ pordon me?/ my name enny. dan biasanya digunakan dalam bahasa spoken saja. Pordon juga lebih sering digunakan British english)
Sebatas itu saja yang bisa saya sampaikan kepada beliau, namun kerutan dahinya mengatakan apa yang ku jelaskan belumlah menjawab apa yang ditanyakannya. Some body help me? :D
Prakata
Tadinya, postingan ini ingin ku ikut sertakan dalam kompetisi blog tentang Komodo. Sedikit ulasan sudah terangkai namun batal diikutkan, karena selain minder (setelah membaca beberapa postingan kompetitor lain), ternyata ada persyaratan yang diajukan harus diwajibkan diikuti oleh peserta blog, dan deadline-nya ternyata bulan agustus lalu, meski deadline penutupan tanggal 9 september ini. Alhasil cuma bisa gigit jari dan meleburkan semua asa dalam angan. Namun, daripada dibuang sayang, maka blog ini pun menjadi tempat pelampiasan. heheheeee...
Tulisan ku dimulai dari sini.....
Read More >>
Tadinya, postingan ini ingin ku ikut sertakan dalam kompetisi blog tentang Komodo. Sedikit ulasan sudah terangkai namun batal diikutkan, karena selain minder (setelah membaca beberapa postingan kompetitor lain), ternyata ada persyaratan yang diajukan harus diwajibkan diikuti oleh peserta blog, dan deadline-nya ternyata bulan agustus lalu, meski deadline penutupan tanggal 9 september ini. Alhasil cuma bisa gigit jari dan meleburkan semua asa dalam angan. Namun, daripada dibuang sayang, maka blog ini pun menjadi tempat pelampiasan. heheheeee...
Tulisan ku dimulai dari sini.....
Tertarik dengan
tawaran yang disponsori blogdetik dan dahatsu ini, saya juga terbius oleh
euforia tantangan ini. Di samping itu, saya juga terdorong oleh rasa bangga
terhadap Hewan superstar ini. Mulailah penjelajahan ku lakukan, mulai dari
artikel yang disajikan oleh bangsa sendiri hingga artikel yang diliput oleh
orang di luar Pertiwi ini.
Disela-sela penjelajahan jari saya, pandanganku terpaku seketika pada satu kalimat awal dalam sebuah artikel berbahasa inggris yang diposting di realwonderoftheworld.com yang menyatakan “Komodo Dragon (Varanus Komodoensis) is truly the only living Dragon on earth”.
Wooww, saya tergumam.
Satu-satunya, dan mereka hidup dan berkembangbiak hanya di Indonesia. Bangga sekali tentunya, bahkan semakin bangga saat akhirnya Pulau Komodo mendapat pengakuan dunia menjadi The New 7 Wonders of the world. Satu lagi ikon, jembatan emas Indonesia.
Terkesan dengan kalimat apresiasi dalam artikel tersebut, saya pun semakin terpukau nyaris ngali (terpelongo teerbodoh, dalam bahasa penduduk di NTT), saat mendapati bahwa mereka pun tertarik untuk melihat hewan ini langsung bahkan menjadikannya ke dalam satu daftar paket wisata mereka di sana. Wah, saya jadi semakin ingin juga menapakan kaki di rumah hewan seksi ini (berharap menang boleh dong :D ).
Lepas dari angan itu, saya mendapati banyak sekali informasi tentang hewan ini. Dan ternyata info yang sama juga sudah disajikan oleh kompetitor yang lain (super lah lengkapnya postingan mereka itu). Namun, ada beberapa poin tentnag hewan ini yang memang baru sekali saya ketahui setelah membaca informasi yang tersaji dalam artikel yang situsnya sudah saya singgung di awal tadi. Komodo, yang dalam bahasa latinnya Varanus Komodoensis, atau orah, sebutan penduduk sekitar Pulau untuk hewan ini, ternyata pertama sekali ditemukan oleh JKH Van Steyan tahun 1911, dan nama Varanus Komodoensis diberikan oleh PA Owens (kira-kira, kenapa beliau menamakannya komodo ya?) pada tahun berikutnya 1912. Pulau Komodo itu sendiri diresmikan mennjadi Taman Nasional Komodo pada tanggal 6 Maret 1980. Dan puncaknya, pada tahn 2012, Pulau Komodo dinyatakan sebagai 7 keajaiban baru dunia. Wow (Prokkk..Prokkk…Prokkk) yeahhhh…
Eits, bangga sih boleh bangga, tapi kita juga harus sadar untuk selalu menjaga kelestariannya.
Disela-sela penjelajahan jari saya, pandanganku terpaku seketika pada satu kalimat awal dalam sebuah artikel berbahasa inggris yang diposting di realwonderoftheworld.com yang menyatakan “Komodo Dragon (Varanus Komodoensis) is truly the only living Dragon on earth”.
Wooww, saya tergumam.
Satu-satunya, dan mereka hidup dan berkembangbiak hanya di Indonesia. Bangga sekali tentunya, bahkan semakin bangga saat akhirnya Pulau Komodo mendapat pengakuan dunia menjadi The New 7 Wonders of the world. Satu lagi ikon, jembatan emas Indonesia.
Terkesan dengan kalimat apresiasi dalam artikel tersebut, saya pun semakin terpukau nyaris ngali (terpelongo teerbodoh, dalam bahasa penduduk di NTT), saat mendapati bahwa mereka pun tertarik untuk melihat hewan ini langsung bahkan menjadikannya ke dalam satu daftar paket wisata mereka di sana. Wah, saya jadi semakin ingin juga menapakan kaki di rumah hewan seksi ini (berharap menang boleh dong :D ).
Lepas dari angan itu, saya mendapati banyak sekali informasi tentang hewan ini. Dan ternyata info yang sama juga sudah disajikan oleh kompetitor yang lain (super lah lengkapnya postingan mereka itu). Namun, ada beberapa poin tentnag hewan ini yang memang baru sekali saya ketahui setelah membaca informasi yang tersaji dalam artikel yang situsnya sudah saya singgung di awal tadi. Komodo, yang dalam bahasa latinnya Varanus Komodoensis, atau orah, sebutan penduduk sekitar Pulau untuk hewan ini, ternyata pertama sekali ditemukan oleh JKH Van Steyan tahun 1911, dan nama Varanus Komodoensis diberikan oleh PA Owens (kira-kira, kenapa beliau menamakannya komodo ya?) pada tahun berikutnya 1912. Pulau Komodo itu sendiri diresmikan mennjadi Taman Nasional Komodo pada tanggal 6 Maret 1980. Dan puncaknya, pada tahn 2012, Pulau Komodo dinyatakan sebagai 7 keajaiban baru dunia. Wow (Prokkk..Prokkk…Prokkk) yeahhhh…
Eits, bangga sih boleh bangga, tapi kita juga harus sadar untuk selalu menjaga kelestariannya.
Hal yang terpikirkan ku sebagai awam sih, hendaknya Pemerintah tidak
tergiur hanya dengan perhitungan income dari keeksotisan orah nih semata.
Karena apa? Pemikiran simple saja, bergerak dari pertanyaan “mengapa orah bertahan
sampai sekarang di NTT?” karena NTT dan pulau-pulau lain yang berpenghuni
komodo sangat tidak akrab dengan aktivitas manusia, kecuali alam itu sendiri,
disamping tentunya faktor kecocokan iklim dan lain sebagainya. Nah, efek dari
karir komodo yang mulai naik daun ini, tanpa prevensi khusus dari Pemerintah
mengenai pengunjung yang kerap berdatangan, takutnya dapat mengganggu
keseimabangan hidup mereka. Sebagai bahan pertimbangnan saja, saya pernah
mendengar bahwa Komodo sendiri katanya pernah ditemukan di benua Australia,
namun hewan ini tidak bisa bertahan di sana. Memang faktor kuat yang
disimpulkan pemicu punahnya hewan ini dari benua itu adalah karena faktor alam
yang membuat hewan ini tidak bisa berevolusi dengan baik. Dan kini, Nusa
Tenggara Timur menjadi pilihan tempat ternyaman, mengapa kita manusia terlihat
seolah olah mengerti akan kepentingan mereka? Apalagi saya pernah dengar isu
pemindahan habitat mereka ke daerah lain. Oh, ayolah, mereka dengan insting
mereka lebih tahu, tempat mana yang bisa disebut rumah oleh mereka. Tugas kita
hanya tidak mengusik kenyamanan yang sudah tercipta bagi kelangsungan hidup
mereka.
Untuk teman-teman pemenang yang terpilih nanti bersama panitia menjelajah
langsung hewan emas ini, diharapkan patuh akan instruksi pawang yah. Ingat,
pikirkan tentan g mereka, jangn terlarut dengan kesenangan pribadi saja.
Tetaplah sportif teman-teman. Dan jangan meninggalkan sampah yah di sana. Bali
dulu begitu indah, bak nirwananya dunia, namun kini tercemar oleh sampah.
Jangan mengulang kesalahan yang sama, bersama kita jaga kelangsungan hewan ini.
Indonesia dipercaya sebagai rumah hewan langka bumi, mari sama-sama kita jaga
titipan ini. Kalau ada tagline pernah kita dengar “tidak ada badak tidak
bagus”, maka untuk ini saya mengajukan
hal serupa namun tak sama “son ada orah, son ada keajaiban”
HORAS :D



