Emon, menjadi perbincangan diantara segelintir pelaku pelecehan seksual yang terblowup dikarenakan korban-korbannya yang sudah mencapai ratusan orang. Berdasarkan pengakuan emon tercatat 120 nama anak korban pelampiasan birahinya yang dicatat dalam sebuah buku kecil.
Orang Indonesia itu sebenarnya kaya-kaya. Itu uang saya lihat dari iklan, reklame, spanduk,bahkan kartu-kartu nama yang saat ini menjadi hiasan sepanjang kota tempat ku berada saat ini. Beragam warna bentuk serta tulisan-tulisan manisnya terpampang megah di tengah, sudut bahkan sampai pelosok kota. Malah pagi ini, saya dikejutkan dengan sebuah billboard nan megah dari salah satu calon DPRD dari partai kuning. Bessaaarrr sekali, barang kali ini bilboard hampir sama besar dengan billboard yang meramekan jalanan saat musim kampaye gubernur kota ini. Wah, ini orang pasti banyak uang, pikirku.
Dengan dana yang jika melihat usaha mereka mempromosikan diri lewat kartu nama, spanduk, billboard, kalender, bahkan mobil-mobil yang distiker dan lain sebagainya, tak salah lah jika ku berpendapat, kalau mereka yang ikut menjadi calon pilihan ini adalah orang-orang yang berada alias kaya boo..!!
Dana besar untuk gaji dibawah puluhan juta????
Masuk akal gak sihh? Belum lagi resiko kalah saat pemilhan. Weleh-weleh. Disaat yang bersamaan aku pun mengerti mengapa kebanyakan mereka yang ikut didalamnya membutuhkan suatu tameng yang katanya mampu membantu keberhasilannya sebagai pemenang pilihan. Meski mereka dilatarbelakangi pendidikan yang super tinggi sekali pun.
Resiko stress berujung rehabilitasi di RSJ pun bukan jadi keheranan lagi jika melihat kebelakang dana yang sudah digelontorkan untuk ajang ini. ya...ya...pantas saja.
Dengan dana yang begitu besar, mungkinkah motivasi mereka menjabat nantinya benar lah tulus untuk kepentingan rakyat??? Jujur, saya ragu akan itu. Bagaimana tidak, pengorbanan yang sudah dikerjakan dimuka, pasti lah sedikit banyaknya mempengaruhi pemikiran si terpilih untuk bisa mengembalikan apa yang sudah dikeluarkan itu. Dengan gaji di bawah puluhan juta? bagi yang berhati tulus, memang hal ini tak akan jadi masalah donk ya untuk menunggu beberapa bulan sampai modal kembali. Celaka lah bagi mereka yang tidak tulus itu, maka korupsi menjadi alternatifnya.
Saya rasa semua atau katakanlah sebagian khalayak yang berwenang dalam hal ini menyadari akan hal ini. Namun tanpa memberi sedikit pun tanggapan yang berarti untuk menekan korupsi. Kenapa tidak ada action sihh?
Kalau kampanye semacam ini memicu korupsi, mengapa masih dibiarkan diberlakukan? Apa tidak ada cara lain untuk mempromosikan diri? Toh, tujuannya untuk memperkenalkan pilihan-pilihan yang ada kepada si pemilih kan? Atau mungkin ada kepentingan lain terkait partai? untuk hal ini saya tidak tahu menahu lah.
Yang saya soroti adalah ketidakefektifan kampaye dengan mengiklankan diri sebegitunya. Setelah masa kampaye, semua itu akan menjadi sampah. Jalanan kotor, batang pohon-pohon rusak akibat tancapan paku. Dengan kata lain uang itu sebagian besar menjadi sampah. Sebagian lagi menjadi sumber penghidupan mereka yang berkecimpung dalam usaha percetakan.
Bagaimana jika tidak lagi diberlakukan kampanye seperti itu. Kampanye diganti dengan aksi blusukan. Berkunjung ke panti-panti, atau ke perhimpunan sosial lainnya. Atau terjun langsung ke lapangan terkait pekerjaan yang akan diemban nantinya.
Saya rasa iklan lewat mulut ke mulut lebih efektif ketimbang sekedar membagi-bagikan sampah tadi. Rakyat pun bisa merasakan sendiri seberapa inginnya mereka menjadi wakil dari rakyat. Tidak ada sampah, rakyat pun terutamakan.
Terkait dengan cita-cita saya yang hendak menjadi seorang penulis, sepertinya saya sudah pernah memposting tips terkait "Menjadi Penulis". Namun hari ini, saya ingin mempostingnya lagi, sebagai reminder untuk diri saya sendiri juga, untuk kembali konsisten kepada niat menjadi penulis tadi.
Hal yang perlu saya dan kalian yang juga ingin bisa menulis ialah "Membaca". Hanya itu kuncinya. Dengan membaca tentunya kini memiliki modal kata-kata mengenai suatu peristiwa yang kemudian ingin dituangkan kedalam tulisan. Mustahil lah jika seorang itu bisa menulis tetapi dia tidak suka membaca. Dengan kata lain, kegiatan membaca dan menulis adalah kegiatan yang berkorelasi erat.
Hal yang perlu saya dan kalian yang juga ingin bisa menulis ialah "Membaca". Hanya itu kuncinya. Dengan membaca tentunya kini memiliki modal kata-kata mengenai suatu peristiwa yang kemudian ingin dituangkan kedalam tulisan. Mustahil lah jika seorang itu bisa menulis tetapi dia tidak suka membaca. Dengan kata lain, kegiatan membaca dan menulis adalah kegiatan yang berkorelasi erat.
Saya tetap dengan cita-cita saya itu, namun saat ini sedang tidak ingin mempraktekan kunci suksesnya tadi. How come?
Ayolah tak ada yang manis dengan jalan instan di dunia ini, kalau pun ada terjadi, manis yang dia rasa adalah manis buatan tidak asli seperti manis yang diproses dari tebu asli.
Begitu pun dengan cita-citamu wahai "Pemilik Blog". Budayakan, dan budayakan membaca. Mimpimu terhenti jika "membaca" hanya dilakukan seturut dengan musim yang ada. Mimpimu akan terasa susah digapai jika "membaca" mu dilanjutkan saat sinabung tak lagi erupsi, atau banjir di Jakarta dan daerah lain surut, dan longsor serta gempa berhenti mengguncang peertiwi ini.
Semangat!!!!! Semangat!!!
Konsisten!!! Ayo Konsisten!!!!!
Ayolah tak ada yang manis dengan jalan instan di dunia ini, kalau pun ada terjadi, manis yang dia rasa adalah manis buatan tidak asli seperti manis yang diproses dari tebu asli.
Begitu pun dengan cita-citamu wahai "Pemilik Blog". Budayakan, dan budayakan membaca. Mimpimu terhenti jika "membaca" hanya dilakukan seturut dengan musim yang ada. Mimpimu akan terasa susah digapai jika "membaca" mu dilanjutkan saat sinabung tak lagi erupsi, atau banjir di Jakarta dan daerah lain surut, dan longsor serta gempa berhenti mengguncang peertiwi ini.
Semangat!!!!! Semangat!!!
Konsisten!!! Ayo Konsisten!!!!!
Rasa-rasanya keberhasilan sangat jauh dari kehidupanku. Di umur ke 25, mendapati diri masih belum ada perkembangan membuatku nyaris putus asa. Bekerja masih di posisi yang sama, ketika ku diterima di perusahaan tempat ku mendapatkan rupiah saat ini. Padahal sudah tiga tahun berselang.
"Makanya, coba melamar donk di tempat lain?"
Eits, jangan pikir aku tidak menjatuhkan lamaran kemana-mana ya. Konyol sekali aku jika menginginkan suatu perubahan tapi tidak melakukan apa-apa. Di awal enam bulan berlalu setealah menjadi karyawan di sini, hampir setiap pagi (jika ada waktu luang) aku membuka loker-loker yang bertebaran di dunia cyber. Dan saat melihat ada info yang sesuai dengan kapasitasku, saat itu lah ku jatuhkan lamarannya (via email). Namun, seperti melihat ke kaca yang penuh dengan bulir-bulir hujan, seperti itu lah nasib lamaran demi lamaran yang ku kirimkan-kabur. Tak ada balasan sama sekali.
Salahnya dimana ya? Segala kemungkinan kegagalan pun ku coba mencari tahu dari pendahulu-pendahulu yang berbaik hati membagi pengalamannya seputar lamaran kerja. Aku pun mulai memperbaiki kemungkinan kesalahan itu, dan menerapkan perbaikan yang telah ku baca dari beragam masukan lewat beragam sumber.
Singkat cerita, dari sekian banyak lamaran yang sudah ku kirimkan sampai menginjak tahun ke-3 ini, bisa dihitung dengan jari lah lamaran yang sukses dilirik perusahaan untuk dipanggil interview. Hasilnya? Gagal semua. Kebanyakan aku gagal di tes yang terakhir.
Lemas, harapan menipis dan mulai mencari-cari kesalahan (dari diri sendiri maupun dari tim penguji). Bahkan ekstremnya, ku pernah mempertanyakan kegagalan ku ini kepada sang Pencipta. "Tuhan, aku kan tidak jahat-jahat kali jadi umatMU, aku juga selalu meminta padaMu setiap kali menjatuhkan lamaran,tapi kenapa yang ku dapat hanya kegagalan?" "Sebegitu berdosanya kah aku di hadapanMU, sampai tak Kau pandang aku sedikit pun?".
Lemas, harapan menipis dan mulai mencari-cari kesalahan (dari diri sendiri maupun dari tim penguji). Bahkan ekstremnya, ku pernah mempertanyakan kegagalan ku ini kepada sang Pencipta. "Tuhan, aku kan tidak jahat-jahat kali jadi umatMU, aku juga selalu meminta padaMu setiap kali menjatuhkan lamaran,tapi kenapa yang ku dapat hanya kegagalan?" "Sebegitu berdosanya kah aku di hadapanMU, sampai tak Kau pandang aku sedikit pun?".
Sadar-sesadar sadarnya, bahwa Tuhan itu tidak pernah tidur, Dia tidak mungkin kejam terhadapku. Namun, ditengah kesedihan dan nyaris putus asa, kedaginganku membuatku semakin buruk saja. Aku tahu aku salah dengan mempertanyakan seperti itu kepada Tuhan, namun aku seakan tak berdaya, menahan kemarahan dan kekesalah karena kesedihan dibalik beragam kegagalan ku ini.
Bukan hanya di karir ku merasa tidak beruntung, dalam cinta pun ku buntung. Enam tahun berhubungan, kandas juga. Berakhirnya hubungan, memberikan penyesalan tersendiri. Ku telah membuang-buang waktu selama enam tahun, dengan orang yang ternyata bukan jodoh yang dipersiapkan untuk ku.
Merenung dan terus merenung, berbalik ke masa lalu, untuk melihat sikap ku di setiap kegagalan yang ku alami. ku dapati, kesalahn memang ada padaku. Sampai saat ku mendengarkan khotbah di kebaktian pagi, aku pun semakin disadarkan. Ilustrasi yang diceritakan pak pendeta tak khayal adalah cerminan diriku juga.
"Ada seorang bapak batak kaya, yang sudah divonis memiliki penyakit yang serius. Dokter yang memeriksa beliau, kebetulan adalah tetangga di komplek perumahaannya. Dokter itu menyatakan, bapak terkena hipertensi yang mengkhawatirkan. Untuk itu bapak, harus menjauhi makanan yang bisa memicu penyakit bapak. Hindari makanan berlemak, terutama saksang, lomok-lomok dan daging lainnya. Bapak hanya dianjurkan untuk mengkonsumsi semua yang hidup di air. Si bapak batak pun kecewa, karena ternyata olahan dari daging terutama B2 adalah santapannya setiap hari, dia merasa belum makan kalau tidak memakan daging itu. Namun demi kesehatannya, si bapak pun berupaya menjalankan nasehat si dokter. Beberapa hari berselang, sang dokter yang kebetulan sedang joging di sekitar komplek, menyempatkan untuk melihat si bapak batak, untuk mengecek kondisinya. saat mengetuk pintu rumah si bapak, pembantu yang membukakan pintu, lalu si dokter pun bertanya "bapak mana?". Si pembantu menjawab, bapak lagi berenang pak. "oh, berarti bapak menjalankan saran saya, baguslah, kata si dokter. "tapi dok, tuan saya berenangnya aneh", balas si pembantu sambil mengajak dokter ke arah kolam berenang. Dan ternyata, astaga...., si bapak batak bukannya berenang semata untuk kesehatannya tapi juga untuk kedagingannya. Si Bapak Batak berenang bersama seekor babi"
Tawa pun menggelegar saat pendeta selesai menceritakan ilustrasinya. Aku pun ikut tertawa, tapi lebih tepatnya menertawakan diri sendiri. Barulah ku sadari ternyata selama ini, aku seperti si bapak batak itu, meminta Tuhan memberikan kebaikan namun memaksa Tuhan untuk memebrikannya seturut dengan apa yang ku pikirkan. Tak heran selama ini hanyala kekecewaan yang ku dapat.
Sepulang ibadah, aku pun menyadari bahwa berdoa pun, namun kalau kesannya memaksa, doa itu salah. Aku tidak benar-benar mempersilahkan Tuhan memberkatiku dengan caraNYA, tapi aku memerintahNYa untuk bekerja seturut keinginanku. Saat yang bersamaan ku pun mengerti, aku belum berhasil hingga kini, dikarenakan memang aku yang belum siap untuk dilimpahkan keberhasilan itu, ditambah caraku meminta juga salah.
Iseng lagi nyantai di tempat kerja, pikiran pun ngelantur kemana-mana. Saat ini, pikiran lagi bermuara di suatu tempat hening nan kelam, dimana hanya terlihat seorang wanita dan pria di sana. Mereka dan aktivitas mereka masing-masing, dengan segala perbedaannya, memberikan suatu keheranan tersendiri dalam pikiran, kenapa ya?
Dari pengamatan pikiran, ada beberapa hal yang dimiliki wanita tapi tidak oleh pria. Bahkan cenderung lebih memberatkan posisi si wanita. Kesannya, wanita lebih banyak menanggung hal-hal yang tidak enak atau lebih kompleks dibanding pria.
Dari pengamatan pikiran, ada beberapa hal yang dimiliki wanita tapi tidak oleh pria. Bahkan cenderung lebih memberatkan posisi si wanita. Kesannya, wanita lebih banyak menanggung hal-hal yang tidak enak atau lebih kompleks dibanding pria.
Gak Percaya?
Lihat deh hasil pengamatan si pikiran di bawah ini.
Lihat deh hasil pengamatan si pikiran di bawah ini.
- Underware.
Dari sisi ini, tentunya kita tahu kalau pria hanya membutuhkan satu underware saja untuk menutupi bagian vital di tubuhnya, sedangkan wanita dua.
- Penyakit
Dalam hal ini, pikiran dapat menguraikan lebih banyak point-point mengenai penyakit yang diderita wanita tapi tidak oleh pria. Contoh : Kanker. Penyakit ini bisa diderita oleh siapa saja, dari segala usia. Namun ada jenis penyakit kanker yang umunya hanya diderita oleh wanita, yaitu kanker payudara. Padahal pria juga punya kan, meski ukurannya relatif lebih kecil dibanding ukuran payudara wanita.
Selain kanker, wanita juga mengalami siklus yang menyakitkan setiap bulannya, yaitu "menstruasi". Kadar rasa Sakit akibat siklus ini memang dirasakan berbeda-beda oleh setiap wanita. Tapi setidaknya, pria tidak pernah mengalami sakit yang begini. Belum lagi sakit saat masa kehamilan dan saat melahirkan, wuihhh,,,katanya sakitnya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Gak main-main taruhannya nyawa. Sedangkan pria?
- Pekerjaan
Masa emansipasi, membuat perubahan terkait pekerjaan antara wanita dan pria. Umumnya sekarang ini, apa yang dilakukan oleh pria bisa juga dilakukan oleh wanita dan sebaliknya. Namun meskipun begitu tetap ada pekerjaan yang wanita dituntut untuk bisa sedangkan pria tidak.
Pekerjaan rumah tangga. Terkait hal ini, wanita diwajibkan harus bisa menangani segala macam pekerjaan rumah tangga, ya cuci piring, sapu rumah, memasak, menyetrika dsb. Sedangkan pria? Ada pemakluman tersendiri jika mereka tidak membersihkan kamarnya, tidak merapikan isi lemarinya. Jika hal serupa dilakukan wanita, maka cibiran dan teriakan ayah atau ibu akan terngiang setiap harinya.
well, sepintas pikiran menyimpulkan, ternyata wanita lebih banyak tidak enaknya dibanding pria. Namun, saat itu juga pikiran menyadari bahwa sesungguhnya wanita itu lebih tangguh dibanding pria. Lihat saja, dari serangkaian uraian di atas. Tanpa hadirnya seorang wanita di sisi pria, bisa dipastikan akan ada ketimpangan dalam hidupnya.
Mungkin ini dampak negatif berkembangnya jaman, atau ini cikal bakal musnahnya jaman itu sendiri. Mengerikan!!!! Kala pernikahan tak lagi suci dan sakral. Dengan mudahnya banyak pasangan memutuskan suatu tali yang sudah diikatkan oleh Tuhan sendiri. Nikah-Cerai bukan lagi berita yang terdengar mengkhawatirkan. Ya seperti halnya saat kita mendengar remaja-remaja yang putus dengan pacarnya.
Janji suci tinggallah isapan jempol semata, layaknya sebuah rayuan seorang pria kepada kekasihnya saat malam minggu. Lalu saat cecok dan beragam perselisihan terjadi, dengan gampangnya mengucapkan kata "cerai". Menjanda, menduda sebentar, lalu ketemu pacar baru, belum mengenal betul sudah memutuskan menikah, dan selang beberapa bulan saja sudah cerai lagi.
Hal tersebut saya saksikan terutama dari kehidupan artis-artis sekarang ini. Dunia mereka seakan membenarkan hal itu. Tak lagi tabu, tak lagi merupakan suatu kesedihan atau kedukaan menyandang status janda atau duda. Mungkin mereka ini memiliki pedoman hidup "Mati Satu, Tumbuh Seribu". heheheee... It's a piece of cake. Sudah seperti kacang goreng kali ya..
"Yahh daripada hanya merasakan sakit menjalani pernikahan, untuk apa dipertahankan? Cerai lah, apalagi!!!" Sepertinya itulah kalimat-kalimat yang sering dilontarkan untuk membenarkan aksi nikah-cerai ini. Tapi apa itu benar? Tidak kah teringat lagi masa manis saat memutuskan untuk mengikat hubungan ke dalam satu janji Pernikahan?
Janji suci tinggallah isapan jempol semata, layaknya sebuah rayuan seorang pria kepada kekasihnya saat malam minggu. Lalu saat cecok dan beragam perselisihan terjadi, dengan gampangnya mengucapkan kata "cerai". Menjanda, menduda sebentar, lalu ketemu pacar baru, belum mengenal betul sudah memutuskan menikah, dan selang beberapa bulan saja sudah cerai lagi.
Hal tersebut saya saksikan terutama dari kehidupan artis-artis sekarang ini. Dunia mereka seakan membenarkan hal itu. Tak lagi tabu, tak lagi merupakan suatu kesedihan atau kedukaan menyandang status janda atau duda. Mungkin mereka ini memiliki pedoman hidup "Mati Satu, Tumbuh Seribu". heheheee... It's a piece of cake. Sudah seperti kacang goreng kali ya..
"Yahh daripada hanya merasakan sakit menjalani pernikahan, untuk apa dipertahankan? Cerai lah, apalagi!!!" Sepertinya itulah kalimat-kalimat yang sering dilontarkan untuk membenarkan aksi nikah-cerai ini. Tapi apa itu benar? Tidak kah teringat lagi masa manis saat memutuskan untuk mengikat hubungan ke dalam satu janji Pernikahan?
Serumit itu kah yang namanya bahtera rumah tangga?? Saya yang masih melajang ini (belum menikah), nyaris menganggap biduk pernikahan adalah momok yang sangat menyeramkan. Ketakutan ini takutnya akan membuatku lama untuk dipersunting pria (jauh-jauh lah itu).Jika sudah begini, pertanyaannya bukan lagi kepada siapa aku harus menikah? tapi, akankah aku menikah??
Tak terbayang lagi seperti apa kehidupan 5 tahun mendatang kala aku sudah menyandang status seorang istri. Pastinya masalah akan semakin kompleks, kehidupan semakin keras. Akan lebih banyak lagi jerat yang membawa ku nantinya ke perangkap nikah-cerai.
Pertanyaan tersebut terlontar karena banyak sekali kata selamat tahun baru yang tertuju padaku, terutama dari saudara tetangga, namun saat ku membalas selamat tahun baru kembali, seolah mereka tidak merasa turut bertahun baru. Lah????Kok???? Malah, pimpinanku, mengucapkan selamat tahun baru pada pegawai yang hanya beragama kristen.
saya jadi bertanya-tanya.
Sepengetahuan saya, 1 Januari tidak lah merupakan salah satu hari perayaan umat kristen dalam tata agamanya. Tapi mengapa seakan menjadi perayaan umat kristen semata? Dan jika diperhatikan, kue-kue penyemarak tahun baru pun kerap ada di mereka yang berkeyakinan Kristen. Jarang sekali kemeriahan tahun baru yang dijalankan umat kristiani itu sama dengan umat lainnya. Padahal harusnya tidak begitu kan? Setiap orang kan melewati pergantian tahun.
Asumsi saya, kebiasaan yang salah ini kemungkinan dikarenakan jarak antara perayaan Natal (tgl 25 Desember) dan tahun baru (tgl 1 Januari), yang memang berdekatan. Lebih lagi kepada kebiasaan saat mengucapkan selamat Natal, pasti selalu dibarengi dengan kata selamat tahun baru juga. Beranjak dari ini mungkin anggapan tahun baru hanya dirayakan secara wah oleh umat kristen (terkesan memang perayaan keagamaan umat kristen) kian berkembang.
Read More >>
Berkumpul dengan 2 sahabat semasa kuliah memang sangat menyenangkan. Momment libur tahun baru membawa kami ke dalam waktu menikmati kebersamaan yang sudah lama sekali tak pernah terlakoni lagi. Yeaaayy,,kumpul.
Meski tak ada tempat menarik di kota ini yang bisa mendukung pertemuan singkat kami ini, tapi tak lah menjadi halangan. Sebuah kursi persinggahan yang berada di dalam sebuah mall pun menjadi tempat pelampiasan kami untuk saling bercerita tentang suka-duka 2013.
Cerita-cerita mereka membuatku bisa melihat, betapa Tuhan menyertai mereka, meski hasil nyata berkat itu di mata dunia tidak lah seberapa. Salah seorang teman, sampai menangis mencurahkan kesedihannya saat berkumpul bersama saudara dan keluarganya di kampung halaman.
Menjelang perayaan Natal yang dirayakan umat kristiani pertanggal 25 Desember, banyak pernak-pernik hiasan natal bahkan pohon Natal di mal-mal dan toko-toko. Umat yang merayakan pun akan sangat bersemangat menghias rumah mereka dengan hiasan suasana natal. Terlihat cantik dan sangat meriah. Lagu bernuansa natal mulai diperdengarkan di tempat publik seperti mal, restaurant dan rumah-rumah penduduk yang merayakannya. Bagi saya yang turut merayakan, merupakan sukacita lebih menyaksikan kemeriahaan Natal.
Namun tak disangka, ternyata kemeriahaan ini menimbulkan sedikit gesekan terhadap saudara tetangga muslim, yang menyatakan adanya larangan bagi mereka untuk mengucapkan selamat natal. Hal ini dilarang dalam kepercayaan mereka katanya, dan guncingan larangan ini pun kerap saya dengar menjelang tanggal 25 Desember. Banyak memang dalil-dalil yang membenarkan larangan ini. Dan yang mau saya katakan di sini adalah, jika memang saudara muslim tidak berkenan memeberikan ucapan selamat natal, saya selaku yang merayakannya tidak merasa keberatan sama sekali apalagi sampai men-judge kalian tidak toleransi. Saya yakin, saudara seiman saya juga tidak akan mempersalahkan hal tersebut, apalagi sampai merasa sakit hati. Mungkin hanya sekedar pertanyaan, "Mengapa?". Dan saya rasa itu pertanyaan yang wajar. Dan saudara muslim tinggal menjelaskan kepada mereka, saudara saya yang mempertanyakannya. Sehingga semakin banyak dari kami memahami alasannya, maka akan semakin baik pula keadaannya, sehingga tidak akan ada terlihat atau terdengar seolah kami, umat kristiani berkeberatan dengan perlakuan saudara kami.
Perlu diluruskan, memang tidak ada kepastian mengapa tanggal 25Desember dipilih menjadi tanggal perayaan kelahiran Sang Juru Selamat, Karenabenar adanya seperti yang menjadi alasan saudara kami, muslim, bahwa memang dalam Alkitab tidak ada tertulis demikian. Bagi pemahaman saya pribadi, perayaan ini adalah merupakan suatu acara untuk mengingat awal hadirnya Sang Juru Selamatyang dirayakan sebagian kelompok pada zaman dahulu yang kemudian menjadi perayaan bagi umat kristiani seluruhnya hingga tahun 2013 ini. Bagi kami yang merayakan, kegiatan natal ini positif adanya, berdampak besar bagi pertumbuhan rohani dan juga kebersamaan sesama umat kristiani, bahkan menjadi moment untuk berbagi kebahagian juga kepada yang lain.
Perlu diluruskan, memang tidak ada kepastian mengapa tanggal 25Desember dipilih menjadi tanggal perayaan kelahiran Sang Juru Selamat, Karenabenar adanya seperti yang menjadi alasan saudara kami, muslim, bahwa memang dalam Alkitab tidak ada tertulis demikian. Bagi pemahaman saya pribadi, perayaan ini adalah merupakan suatu acara untuk mengingat awal hadirnya Sang Juru Selamatyang dirayakan sebagian kelompok pada zaman dahulu yang kemudian menjadi perayaan bagi umat kristiani seluruhnya hingga tahun 2013 ini. Bagi kami yang merayakan, kegiatan natal ini positif adanya, berdampak besar bagi pertumbuhan rohani dan juga kebersamaan sesama umat kristiani, bahkan menjadi moment untuk berbagi kebahagian juga kepada yang lain.
Entah mengapa, belakangan ini operator beberapa provider telekomunikasi kerap dan semakin berkesinambungan sepertinya mengirimkan sms-sms kepada pelanggannya. Kegiatan ini terasa semakin mengganggu bagi saya pribadi. Tak jarang ketika saya sedang dalam keadaan kerja, lalu hp berdering,tanda sms masuk, buru-buru mengambil hp disaku, eh ternyata sms dari provider. Kalimat dalam sms beragam, dan saya merasa belum pernah beruntung ketika mendapatkan sms itu, cenderung terganggu. Belum lagi, aksi-aksi orang yang tidak bertanggung jawab yang sering mengirimkan pesan "selamat anda memenangkan bla..bla..bla..", atau "transfer ke rek ini atas nama ini", belum lagi sms yang kerap membuat rasa geli "ma, "papa kehabisan pulsa ma, kirim ke no ini ya". Geli bangettt...,karena saya kan belum bersuami.
Bagi saya, setiap hari mendapat pesan dengan nada demikian, membuat urat saraf menegang, dan saya bawaannya langsung kesal. Bisa pula disimpulkan, ini sudah meresakan bagi saya.
Bercerita ke teman kantor, mereka pun berpendapat sama seperti saya. Sama-sama juga merasa dirugikan. Malah ada dari mereka yang mendapat sms dengan nada "NO, togel hari ini sekian sekian". Wah ini kan bahaya.
Kalau saja si penerima sms sedang akan membuka pesannya saat dia berada di warungmakan, nah kebetulan orang yang disebehnya adalah seorang polisi, yang tanpa sengaja mengarahkan pandangan ke hp-nya dan sama-sama membaca pesan tersebut, si polisi tentunya akan menduga teman kantor saya ini pemain togel. Bisa jadi kan?
Rasa kecewa pastinya pernah dirasakan setiap orang. Terlebih oleh kita yang selalu punya harapan. Loh? Bukannya itu positif?
Ya, tentu saja, hidup akan tetap menjadi hidup jika kita tetap punya harapan dalam diri. Tapi jangan salah bahwa harapan ini juga sering menghantarkan kita pada kekecewaan. Apalagi ketika harapan itu kita gantungkan pada orang lain. Berawal dari sini lah rasa kecewa itu.
Berharap kepada orang lain tidak lah salah, apalagi orang yang padanya harapan itu kita gantungkan adalah keluarga, shabat atau pacar sendiri. Jangan sampai harapan itu juga berlebihan. Ingatlah, manusia banyak keterbatasannya, tidak seperti TUhan yang mampu mewujudkan apapun sepanjang harapan itu berkenan bagiNYA.
Nah, sedikit tips untuk membentengin diri agar terhindar dari rasa kecewa yang teramat menyakitkan.
Chexk this out!
1. MANDIRI
Membiasakan diri untuk bersikap mandiri akan sangat membantu kita terhindar dari kecewa. Mulailah melatih diri, untuk bisa mengerjakan hal-hal yang biasanya kita mengandalkan orang lain untuk membantu kita. Ya, jangan terlalu bergantung pada orang lain. Sekalipun perempuan. Perempuan juga mampu untuk mengerjakan pekerjaan berat pria jika perempuan memang mau melakukannya. Dengan kemandirian kita, maka aksi untuk menggantungkan harapan kepada orang lain pun bisa diminimalisir sehingga dengna sendirinya rasa kecewa itu sudah terantisipasi.
Saya salut dengan teman-teman seiman yang memilih profesi menjadi Pelayan full time bagi YESUS. Sungguh pilihan yang tidak mudah dan penuh tantangan pastinya.
Lohhh bukannya mengikut TUhan itu menjanjikan kebahagiaan? Apalagi kalau total sampai mengabdi seperti pendeta dan pelayan terkait. Yup, benar sekali upah mengabdi kepadaNYA, ku percaya besar adanya. Tak ternilai jika dibanding dengan kemewahan yang ditawarkan dunia. Berada dekat orang-orang yang sungguh beriman kepadaNYA saja membuat hati damai. Apalagi jika menjadi bagian dari mereka.
Tapi untuk mencapai itu semua, harus mengorbankan banyak sekali hal. KArena ingat, ketika memutuskan menjadi pelayanNYA, hidup kita menjadi sorotan orang lain, hidup kita juga bisa menjadi standart bagi hidup orang lain.
Menjadi standart? Maksudnya?
Maksudnya begini, saat kita yang notabene adalah pelayan, namun pola hidup kita masih mencerminkan ketidakkudusan. Maka jangan heran saat banyak melontarkan pernyataan begini:
"Alahhhhh, pendeta juga masih merokok kok. Berarti gak salah donk"
"Alahhhhh, itu calon pendeta tapi pacarannya gonta ganti kok,MBA juga kok, berarti gak apa lah kalo kita juga gitu"
"Alahhhhh, itu mahasiswa teologi, pakaian seksi- seksi kok, berarti it's ok donk pake u can see my ketie"
Dan hal ini pula lah, menjadi penghambat atau menjadi acuan bagi sodara kita tetangga yang semakin menganggap kita ini sesat. Dan ajaran Yesus juga semakin salah di mata mereka.
Saya pernah mendengar langsung salah satu dari mereka berujar "gmana mereka bilang, Tuhannya jalan keselamatan,lah ke gereja aja pakaiannya minim begitu. mereka mau ibadah atau apa? kan bagus kita dianjurkan untuk tertutup,isshhh dasar kafir"
Semacam ditampar-tampar pakai kuali saudara mendengarnya. Dan apa yang dikatakannya emang benar. Banyak yang seperti itu ke gereja. Dan sejujurnya hal yang sama juga terlontar dalam benak. Mengapa mereka berpakaian begitu?
Dan terus terang, saat melihat mereka yang seiman apalagi yang terjun ke dalam pelayanan terlihat seperti kasus di atas, dalam hati ini meragukan keimanan mereka. Karena pasti ada yang salah. Jika persekutuan itu benar, maka mereka juga akan melihat hal itu adalah salah.
Aku sedang berada salam titik jenuh akan aktivitasku. Sudah 3 tahun, no progress, tidak ada hal baru nan menantang, semua kegiatan berulang ku lakukan setiap harinya, dan sekarang ni benar-benar seraya sudah pada ambang batasnya.
Namun, aku tak bisa berupaya apapun.
Satu-satunya yang sangat diinginkan pikiranku adalah, aku akan berada dalam suasana yang tenang, suasana dimana aku tidak sempat memikirkan masa depanku, tuntutan orang tuaku, nasehat-nasehat orang dekat ku dan semua hal yang hanya menumpuk beban dalam pikiran ini saja.
Ini aku di titik jenuh ku dan ini aku si pecundang. Menolak menghadapi kepahitan hidup, menolak menghadapi kekecewaan orang-orang terhadapku. Aku menolak untuk berada pada posisi itu.
Semua yang baik terlupa begitu saja, yang ada hanyalah suara keluhan tentang ini dan itu. Membuat diri semakin menyedihkan saja.
Alam bawa sadar ku tahu, hanya bersikap bersyukur lah aku bisa terbebas dari rasa tak berdaya ini. Bukannya gampang bersyukur saja? Hanya mengambil waktu diam, melipat tangan dan menutup mata, melakukan penyembahan kepada Pemberi Hidup, menyatakan Betapa nikmatNya hidup yang diberikanNYA. SUngguh keadaanku tak akan lebih baik dari sekarang jika aku tak ingat untuk bersyukur kepadaNYA.
Ya, aku ingat itu akan membebaskan ku, namun aku belum melakukannya. Ada apa dengan diriku? Berkurang kah rasa percaya ku padaNYA? Tidakah lagi ada rasa cintaku untukNYA?
- Mana pengakuan Yesus dalam Alkitab bahwa dia beragama Kristen ?
- Mana ajaran Yesus ketika dia berumur 13 - 29 tahun ?
- Mana ucapan Yesus dalam Alkitab "Akulah Allah Tuhanmu, maka sembahlah Aku saja" ?
- Mana dalilnya firman Allah dalam Alkitab "Akulah yang mewahyukan Alkitab, maka Aku pula yang akan menjaganya" ?
- Mana perintah Yesus dalam Alkitab beribadah hari minggu ?
- Mana dalil dalam Alkitab Yesus 100% Tuhan & 100% manusia ?
- Mana dalilnya asal percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan juruselamat dijamin pasti masuk surga ?
- Mana foto asli wajah Yesus dan siapa pemotretnya ?
- Mana dalilnya dalam Alkitab Yesus lahir pada tanggal 25 Desember dan perintah merayakan natal ?
- buktikan siapa yang hafal Alkitab walau satu surat saja ?
Serangkaian pertanyaan di atas itu, saya kutip dari komentar komentator pada artikel yang menyoroti ketegasan Ahok dalam mengemban kewajibannya sebagai wakil gubernur sehingga melontarkan suatu pernyataan yang membuat sebahagian orang terheran-heran bahkan ujung-ujungnya sampai menghujat agama.
Pernyataan Ahok sendiri tak lain dan tak bukan adalah "Mati adalah Keuntungan". Lewat pernyataan ini pula lah timbul pertanyaan tersebut dan beragam celaaan, cacian yang dilemparkan ke agama masing-masing.
Satu hal yang saya soroti adalah, mengapa sikap tegas Ahok itu menjadi keresahan? Bukannya baik, pada akhirnya kita mempunyai pemimpin yang sungguh ingin bekerja (khusus jakarta). Apa hanya karena dia berlatar belakang dari minoritas sehingga layak dia selalu diperguncingkan seperti itu?
Hal ini membuat saya merenung, ternyata memang banyak warga Indonesia yang tidak mengerti arti pluralitas bernegara. Padahal sedari sekolah dasar sampai ke jenjang universitas, kita belajar mengenai kewarganegaraan, namun pada praktiknya, nihil. Perang statement terus terjadi ketika menyingnggung sedikit saja soal ras. Cela-celaan tak bisa dihindari. Apa,apa sebenarnya yang dicari dari mereka yang saling mencela ini?
Bagaimana seseorang yang tidak meyakini bisa menjudge bahwa keberadaan keyakinan lain itu sesat adanya. Sama hal seperti pertanyaan yang dilontarkan salah satu komentator dalam artikel itu. Untuk apa dia menanyakan bahkan terkesan mengentes keabsahan keyakinan orang lain padal dia tidak menyakini dan memahami? Toh sekiranya ada yang menjawab pertanyaan tersebut dengan sempurna, dia juga tidak akan bisa menerima. Karena apa? Karena sudah jelas itu akan bertentangan dengan pemahaman yang sebelumnya sudah tertanam dalamnya. Meskipun benar adanya jawaban tersebut, tapi batin akan berusaha mencari dalil lain sehingga jawaban tadi samar kebenarannya. Alhasil, perang cacian pun tak kunjung selesai.
Sedihh...
Menjadi orang yang bisa menyenangkan orang lain memang lah bukan hal yang bisa dianggap enteng. Mengapa? Jelas dikarenakan setiap orang memiliki persepsinya masing-masing akan sesuatu yang dianggap menyenangkan dan yang tidak.
Melihat wanita lain bergaun mewah nan megah, sungguh terbersit hati untuk bisa mengenakannya juga.
Tapi, apa yang ku punya?
Bahan sutra berbordir perhiasan seperti itu aku tidak punya.
Hanya gumpalan benang kusut ini lah harta ku. Satu-satunya awal ku untuk meraih angan kewanitaanku.
Mampu kah???
Kekuatan mahadasyat ada di dalam dunia ini. Aku percaya itu. Berpegang akan keyakinan itu, aku pun tak ingin anganku haus tak sempat terwujud. Pasti bisa.
Bagi Dia sang empunya Khalik, tentunya hasrat ini hanyalah sebahagian kecil dibanding KuasaNYA.
Hanya saja jalan yang kulalui jauh berbeda dari wanita-wanita itu. Mereka yang terlahir sudah mengenal kemewahan tentunya tak harus melewati kekalutan yang ku rasa kini.
Pikiranku kini menyatu seperti kusutnya benang itu.
Memang apa yang coba saya ungkapan lewat judul bukanlah karakteristik mutlak seorang pejabat yang berintergritas. Melainkan bisa jadi menjadi salah satu pemicu kita untuk memilih pajabat yang pantas untuk dipilih.
Indonesia haus akan pemimpin yang Jujur, yang tegas, yang memang menjunjung tinggi arti sumpah pada saat sumpah jabatan.
Berita yang kerap kali kita dengar adalah pejabat ini tertangkap tangan oleh KPK, pejabat itu terjerat kasus korupsi dsb. Meskipun kita jelas sekali mengingat pada saat mereka kampaye slogan-slogan (misalnya) "katakan Tidak Pada Korupsi!!!" atau "Berani Beda" kerap dilontarkan dengan penuh semangat. Namun pada akhirnya, korupsi juga.
Dalam memilih dengan waktu kampaye yang singkat saja tentunya tidak cukup bagi rakyat Indonesia yang banyak ini mengetahui secara pribadi sosok pilihan mereka. Banyak juga yang asal mencoblos atau yang mencoblos hanya karena kekerapatan lewat family, sekalipun sangat jauh jika diruntutkan. Alhasil, kita pun tak tahu pasti kualitas pilihan kita.
Untuk sedikit mengantisipasi akan kekecewaan di kemudian hari, mungkin apa yang tertera dalam judul bisa saja menjadi masukan bagi pemilih yang sama sekali kita tidak ketahui. Cukup googling mengenai data pribadinya dan lihat apakah dia memiliki satu istri (khusus untuk calon laki-laki) Mengapa? Karena pria yang pada masa rata-rata melakukan pencalonan tetap memiliki 1 istri adalah pria yang berintegritas terhadap janji pernikahannya.
Penalarannya seperti ini, jika dia bisa menjaga janji cintanya, maka besar kemungkinan juga dia akan bisa mengemban tangggung jawab yang sudah disumpahkannya saat dia menjabat nanti.
Lalu bagaimana dengan yang banyak istri??? Pria yang memiliki banyak istri, pastinya akan membagi pikirannya ke istri satu dan lainnya. Belum lagi ketika istri-istri menuntut ini dan itu, pasti si suami dengan istri yang banyak ini akan berupaya memenuhi semua kebutuhan istri-istrinya. PAdahal gaji pejabat pastinya tidak mengkover untuk kebutuhan dengan status banyak istri. Cara terdekat dan terpraktis adalah ya mengikuti sistem yang sudah-sudah (ikut-ikutan korupsi).
Namun ada juga mereka yang tadinya sebelum menjabat memiliki istri satu, namun tak lama setelah menjabat istrinya menambah setiap tahunnya. Weleh-welehh ini yang namanya termakan tipu daya kedudukan yang menjadikan si pria jauh di atas pria rata-rata, sehingga sah-sah saja baginya jika menambah istri terang dan istri gelap. Kalau untuk yang model begini saya cuma bisa katakan ckckckckckckkk
Lalu apa lagi pentingnya dengan istri 1 saja.
Masih ingat kan kata bijak "dibalik kesuksesan pria ada wanita dibelakangnya. Dan sangat tidak relevan lah jika pria yang dimaksudkan adalah pria dengan wanita yang banyak. "
Akkhhh...ga tuh.."
Pasti ada yang nyeletuk demikian. ya..bisa jadi benar, teori ini tidak berlaku padanya. tapi pada saat itu saja. KArena bukan tidak mungkin wanita-wanita dibalik seorang pria itu lah yang justru menghancurkan si pria itu.Berita yang kerap kali kita dengar adalah pejabat ini tertangkap tangan oleh KPK, pejabat itu terjerat kasus korupsi dsb. Meskipun kita jelas sekali mengingat pada saat mereka kampaye slogan-slogan (misalnya) "katakan Tidak Pada Korupsi!!!" atau "Berani Beda" kerap dilontarkan dengan penuh semangat. Namun pada akhirnya, korupsi juga.
Dalam memilih dengan waktu kampaye yang singkat saja tentunya tidak cukup bagi rakyat Indonesia yang banyak ini mengetahui secara pribadi sosok pilihan mereka. Banyak juga yang asal mencoblos atau yang mencoblos hanya karena kekerapatan lewat family, sekalipun sangat jauh jika diruntutkan. Alhasil, kita pun tak tahu pasti kualitas pilihan kita.
Untuk sedikit mengantisipasi akan kekecewaan di kemudian hari, mungkin apa yang tertera dalam judul bisa saja menjadi masukan bagi pemilih yang sama sekali kita tidak ketahui. Cukup googling mengenai data pribadinya dan lihat apakah dia memiliki satu istri (khusus untuk calon laki-laki) Mengapa? Karena pria yang pada masa rata-rata melakukan pencalonan tetap memiliki 1 istri adalah pria yang berintegritas terhadap janji pernikahannya.
Penalarannya seperti ini, jika dia bisa menjaga janji cintanya, maka besar kemungkinan juga dia akan bisa mengemban tangggung jawab yang sudah disumpahkannya saat dia menjabat nanti.
Lalu bagaimana dengan yang banyak istri??? Pria yang memiliki banyak istri, pastinya akan membagi pikirannya ke istri satu dan lainnya. Belum lagi ketika istri-istri menuntut ini dan itu, pasti si suami dengan istri yang banyak ini akan berupaya memenuhi semua kebutuhan istri-istrinya. PAdahal gaji pejabat pastinya tidak mengkover untuk kebutuhan dengan status banyak istri. Cara terdekat dan terpraktis adalah ya mengikuti sistem yang sudah-sudah (ikut-ikutan korupsi).
Namun ada juga mereka yang tadinya sebelum menjabat memiliki istri satu, namun tak lama setelah menjabat istrinya menambah setiap tahunnya. Weleh-welehh ini yang namanya termakan tipu daya kedudukan yang menjadikan si pria jauh di atas pria rata-rata, sehingga sah-sah saja baginya jika menambah istri terang dan istri gelap. Kalau untuk yang model begini saya cuma bisa katakan ckckckckckckkk
Lalu apa lagi pentingnya dengan istri 1 saja.
Cemburu kerap kali diidentikan dengan adanya kecintaan besar terhadap seseorang. Saya sependapat dengan pernyataan tersebut karena bisa diterima secara rasional.
Entah hanya aku yang kerap kali jengkel ketika mereka datang bertandang ke kantor (minta sumbangan), atau ada orang lain juga di luar sana.
IPK
organisasi ini sudah kali ke-dua datang di kantor dan meminta sumbangan. Awal kedatangan mereka, saya masih ingat sekali, dengan dalih meminta partisipasi untuk acara peringatan ulang tahun mereka. Datang 2 orang laki-laki, berperawakan sangar, yang satu tubuh besar dan satu lagi sedang saja, mereka datang dengan sepeda motor dan pakaian biasa. Saat itu saya selaku pegawai yang paling dekat dengan pintu masuk, meladeni kedatangan mereka, namun tidak langsung memberikan apa yang mereka minta. "akan saya sampaikan ke atasan proposal ini". Kemudian dua hari kemudian mereka datang lagi, dan saya hanya memberikan 20rb dalam amplop proposal mereka, dan mereka berlalu pegi. Namun memang ada secuil perkataan mereka yang rasanya kurang pantas untuk diucapkan sebagai oraganisasi yang mengatasnamakan pemuda "ya kan gak mungkin di situ kita mau berak, di situ cari wc pak". Itulah perkataannya, saat seorang teman kerja membela saya saat saya minta waktu untuk menyerahkan proposal itu kepada atasan dulu. Saat itu, mereka bilang untuk segera diajukan ke atasan karena tanggal acara tanggal 28 (2minggu lebih lagi setelah tanggal mereka datang). Lalu teman saya menimpali "ya ela, masih dua mingguan lagi pak". Lantas terucaplah kalimat sampah itu tadi.
Minggu ini, mereka, dengan orang yang sama, organisasi yang sama datang lagi membawa proposal yang sekilas saya baca perihal kegiatan lomba futsal yang hendak mereka selenggarakan. Sama dengan yang pernah saya lakukan, saya pun menangguhkan memberikan sumbangan itu, dengan kata yang sama "nanti saya ajukan ke atasan saya". Dua hari berselang, salah satu mereka (yang bertubuh sedang) datang lagi,dengan menggunakan seragam mereka. Saat itu saya sendiri, sementara yang lain sedang beraktivitas di luar kantor.
"Proposal belum diterima atasan saya, karena beliau belum ke kantor sampai detik ini, begitu pun ini ada dari saya pribadi sebagai partisipasi dari kantor ini". Saya menyerahkan uang 10ribu rupiah.
"kok cuma segitu kak? masak kantor nyumbangnya cuma 10ribu?katanya"
"Loh, bang, kan saya sudah bilang, ini dari saya pribadi, kalau mau tunggu dari kantor, sabarlah sedikit tunggu bos saya datang ke kantor".
"cobalah hubungi bos kakak?? Masak setiap kali kita datang ke sini, bos kakak selalu gak ada??"
"ya memang ketepatannya begitu kan bang, abang bisa lihat sendiri gak ada mobil bos kami terpakir di depan kan?"
"ya udah lah, nanti saya datang dengan teman saya"katanya sambil berlalu pergi tanpa membawa uang 10ribu tadi
Waduuhhhh,,,kesal betul diperlakukan begitu. Katanya sekedar partisipasi, kok dikasih 10ribu nolak?
Saya pikir, si abag IPK tadi benar akan datang lagi dengan membawa temannya. Namun sampai jam tutup kantor, orangnya tidak nongol juga.
Senin tiba, yaitu hari ini. Saya kedatangan tamu pagi ini dan pemuda yang kemarin itu datang, langsung masuk tanpa mengucap salam dan berdiri di depan pintu bak penagih utang. Saya menyadari kehadirannya, tapi saya acuhkan karena saya sedang ada tamu. Saya pikir akan ada etika darinya untuk menunggu di luar terlebih dahulu atau menyela pembicaraan saya secara baik atau apa gitu, tapi ternyat dengan santainya dan paras sangarnya dia tetap berdiri di depan pintu. Gerah dengan tingkahnya, saya pun menanyakan perihal kedatangannya.
"ada apa bang?"
Tatapannya tajam saat saya berkata demikian seperti hendak marah. ya saya tahu dan menyadari dia akan bereaksi demikian dengan pertanyaan saya itu.
"Mau ngambil proposal kami",katanya.
Aku pun beranjak dan mengambil yang dimintakannya.
"begini aja kak?, katanya sambil melihat isi amplop yang memang hanyalah kertas 2 lbr yang katanya proposal itu.
"iya bang. emang mau seperti apa?"tanya ku
"Jadi perusahaan ini menolak partisipasi atas acara kami?, lanjutnya dengan nada lantang"
"Bukan menolak bang, tapi sampai sekarang bos memang belum datang, dan saya sudah mencoba berpartisipasi namun anda tolak, lalu saya harus berbuat apa lagi"jawabku gak kalah lantang
"ya masak cuma 10ribu kak", jawabnya.
"kan abang ssendiri yang bilang sekedar partisipasi, dan saya sudah kasih namun ditolak, emangnya partisipasi itu dipatok ya? jadi seharusnya saya mesti kasih abg berapa?, kataku dengan emosi.
"Jadi jalan tengahnya gimana ni kak?" tanyanya.
"Ya kala emang abang mau nunggu yang dari perusahaan ya sabarlah sampai atasan datang, kalau dari saya kan sudah coba partisipasi, tapi kalau anda mengharapkan lebih banyak lagi saya tidak sanggup."
Pria itu tetap berdiri tanpa berkata sambil menatapku semakin tajam. Tanpa ragu aku pun membalas tatapan itu.
"jadi intinya, kakak tidak mau berpartisipasi ya.
Seorang teman, curhat kepada saya. "Bisa kah Tuhan pulihkan saya?", tanyanya.
Terkejut aku membacanya. Saat dia mengatakan itu, sungguhlah ku mulai melihat sedikit kehancuran yang sedang dirasakannya. Tapi itu salah. Tuhan selalu mampu memulihkan sehancur apapun hidup kita. Bukan di Tuhan intinya, tapi pada diri kita sendiri. "Mau tidak kita dipulihkan", itu kuncinya.
Apa yang tidak bisa dilakukanNYA. Kesediaan hati kita ini lah kuncinya. Awal dari segala perubahan itu dari hati, dari niat kita. JIka hal itu tidak ada ya Tuhan juga males gitu ngurusin kita. Anak-anaknya bukan cuma kita kan. Ya bukan berarti kita luput dari perhatianNYA. Tidak. Tapi sikap ini harus diubah. Jangan terlalu manja menghadapi apapun persoalan hidup. Apalagi itu hanya kisah cinta yang kandas meski rasa sayang masih terlalu besar.
Memang dia baru kali pertama pacaran namun hubungannya tak berlangsung seperti yang dia idamkan. Kecewa dan sakit berlarut pun kian dirasakannya. Awalnya pasti yang melihat bisa memahami keadaannya. Tapi ini sudah terlalu lama sejak perpisahaannya, tapi dia masih begitu-begitu saja, sementara mantan yang terus diaharpkannya itu pun telah memiliki pacar lagi.
Terlalu lebay kah dia?



