Penjelasan mengenai Sabu ini sendiri saya baca dari salah satu postingan teman di fb kepada temannya. Saya memang mencopy paste informasi ini tanpa ijin dari pemilik fb, tapi saya yakin si empunya tidak akan keberatan karena niat saya baik untuk membantu penyebarluasan mengenai masyarakat Sabu, Indonesia. Dan saya pribadi mengucapkan terima kasih buat informasinya.
Sejarah Ringkas Kabupaten Sabu Raijua

Kabupaten Sabu Raijua merupakan Daerah Otonom yang baru terbentuk Tahun 2008 berdasarkan Undang - undang Nomor 52 Tahun 2008 tanggal 26 Nopember 2008, yaitu pemekaran dari Kabupaten Kupang Propinsi Nu...Lihat Selengkapnya

Sejarah Ringkas Kabupaten Sabu Raijua

Kabupaten Sabu Raijua merupakan Daerah Otonom yang baru terbentuk Tahun 2008 berdasarkan Undang - undang Nomor 52 Tahun 2008 tanggal 26 Nopember 2008, yaitu pemekaran dari Kabupaten Kupang Propinsi Nusa Tenggara Timur dimana Kabupaten Sabu Raijua merupakan Kabupaten yang ke 21 di propinsi Nusa Tenggara Timur.
Pulau Sabu juga dikenal dengan sebutan Sawu atau Savu. Penduduk di pulau ini sendiri menyebut pulau mereka dengan sebutan Rai Hawu yang artinya Tanah dari Hawu dan orang Sabu sendiri menyebut dirinya dengan sebutan Do Hawu. Nama resmi yang digunakan pemerintah setempat adalah Sabu. Masyarakat Sabu menerangkan bahwa nama pulau itu berasal dari nama Hawu Ga yakni nama salah satu leluhur mereka yang dianggap mula-mula mendatangi pulau tersebut.
Menurut sejarah, nenek moyang orang Sabu berasal dari suatu negeri yang sangat jauh yang letaknya di sebelah Barat pulau Sabu. Pada abad ke-3 sampai abad ke-4 terjadi arus perpindahan penduduk yang cukup besar dari India Selatan ke Kepulauan Nusantara. Perpindahan penduduk itu disebabkan karena pada kurun waktu itu terjadi peperangan yang berkepanjangan di India Selatan. Dari syair-syair kuno dalam bahasa Sabu dapat diperoleh informasi sejarah mengenai negeri asal leluhur Sabu. Syair-syair itu mengungkapkan bahwa negeri asal orang Sabu terletak sangat jauh di seberang lautan di sebelah Barat yang bernama Hura. Di India terdapat Kota Surat di wilayah Gujarat Selatan yang terletak di sebelah Kota Bombay, Teluk Cambay, India Selatan. Kota Gujarat pada waktu itu sudah terkenal sebagai pusat perdagangan di India Selatan. Orang Sabu tidak dapat melafalkan kata Surat dan Gujarat sebagaimana mestinya, sehingga mereka menyebutnya Hura. Para pendatang dari India Selatan ini menjadi penghuni pertama pulau Raijua di bawah pimpinan Kika Ga dan saudaranya Hawu Ga. Keturunan Kika Ga inilah yang disebut orang Sabu (Do Hawu). Setelah kawin mawin mereka kemudian menyebar di Pulau Sabu dan Raijua dan menjadi cikal bakal orang Sabu.
Pembagian wilayah di Sabu terjadi pada masa Wai Waka (generasi ke 18). Pembagian ini dibuat berdasarkan jumlah anak-anaknya yang akan dibagikan wilayahnya masing-masing yakni:
Dara Wai mendapat wilayah Habba (Seba)
Kole Wai mendapat wilayah Mehara (Mesara)
Wara Wai mendapat wilayah Liae
Laki Wai mendapat wilayah Dimu (Timu)
Dida Wai mendapat wilayah Menia
Jaka Wai mendapat wilayah Raijua
Pembagian ini telah menyebabkan terbentuknya komunitas genelogis-teritorial, dimana suatu rumpun keluarga terikat pada pemukiman tertentu. Karena rumpun ini berkembang semakin besar maka dibentuk suatu sub rumpun yang disebut Udu yang dikepalai oleh seorang Bangu Udu. Di Habba (Seba) terdapat 5 Udu yang nantinya akan terbagi lagi menjadi Kerogo-Kerogo. Di Sabu dan Raijua seluruhnya terdapat 43 Udu dan 104 Kerogo.
Diyakini terdapat pengaruh Majapahit yang pada abad ke 14 sampai awal abad ke 16 berhasil menguasai dan menyatukan nusantara terhadap kehidupan masyarakat Sabu. Beberapa bukti tersebut dapat dilihat pada :

  1. Mitos (cerita rakyat) yang memberikan penghormatan terhadap Raja Majapahit sehingga muncul cerita bahwa Raja Majapahit dan istrinya pernah tinggal di Ketita di Pulau Raijua dan Pulau Sabu.
  2. Ada kewajiban bagi setiap rumah tangga untuk memelihara babi yang setiap saat akan dikumpul untuk persembahan kepada Raja Majapahit.
  3. Ada batu peringatan untuk Raja Majapahit yang disebut Wowadu Maja dan sebuah Sumur Maja di wilayah Daihuli dekat Ketita.
  4. Setiap 6 tahun sekali ada upacara yang diadakan oleh salah satu Udu di Raijua, Udu Nadega yang diberi julukan Ngelai yang menurut cerita adalah keturunan orang-orang Majapahit.
  5. Motif pada tenunan selimut orang Sabu yang bergambar Pura.
  6. Di Mesara ada desa yang bernama Tana Jawa yang penduduknya mempunyai profil seperti orang Jawa dan ada tempat di dekat pelabuhan Mesara yang disebut dengan Mulie yang diambil dari bahasa Jawa Mulih yang berarti pulang.
Mobilitas ke luar Sabu dimulai sejak saat kontrak antara Sabu dan Belanda ditandatangani tahun 1756. Telah ditetapkan bahwa Sabu wajib menyediakan tentara bagi Belanda demi kepentingan pertahanannya di Kupang. Tujuan utama tenaga bersenjata ini adalah untuk melancarkan ekspedisi militer seperti yang dilakukan oleh Von Pluskow sejak 1758 hingga 1761. Ketrampilan orang Sabu di bidang militer ini ditambah dengan keberanian mereka meluaskan keterlibatan mereka antar lain ekspedisi di tahun 1838 untuk menghentikan kebiasaan orang Ende menyerang Sumba demi mendapatkan budak. Emigrasi orang Sabu ke Sumba yang diawali oleh hubungan perkawinan antara Raja Melolo di Sumba Timur dan Raja Sabu di Habba kemudian berkembang menjadi perkampungan Sabu di Sumba Timur.
Beberapa kali wabah penyakit menyerang penduduk Sabu diantaranya cacar yang memakan korban jiwa di tahun 1869 membuat Sabu dan Raijua kehilangan hampir seperenam jumlah mereka, kolera di tahun 1874 dan berulang tahun 1888 yang membuat rakyat di kedua pulau Sabu dan Raijua berkurang sangat signifikan. Baru sekitar tahun 1925 penduduk Sabu mencapai jumlah semula.Hal menarik lainnya dari sejarah Sabu adalah bahwa ternyata Kapten James Cook, penemu Benua Australia, Kepulauan Hawai dan orang pertama yang mengelilingi serta membuat peta Selandia Baru, pernah singgah di Pulau Sabu. Dalam perjalanannya menuju Batavia pada tahun 1770, Kapal HM Bark Endeavour terdampar di Pulau Sabu akibat kehabisan perbekalan. Kapten James Cook mendapatkan bantuan logistik dari penguasa Sabu pada masa itu yaitu Raja Ama Doko Lomi Djara sehingga dapat berlayar kembali.Setelah otonomi daerah diberikan kepada pemerintahan provinsi (Undang-undang Otonomi Daerah tahun 1999), Raijua menjadi sebuah kecamatan. Pada pembentukan Kabupaten Sabu Raijua di tahun 2008, secara resmi kabupaten ini terbagi atas 6 kecamatan yakni Raijua, Sabu Barat, Hamu Mehara, Sabu Liae, Sabu Timur dan Sabu Tengah. Pada tahun 2008, Thobias Uly diangkat menjadi Penjabat Bupati dan pada 24 Januari 2011 Bupati pertama Kabupaten Sabu Raijua Ir. Marthen L. Dira Tome dengan wakilnya Drs. Nikodemus N. Rihi Heke mulai menjabat


Kampung Adat (1 foto)

Kampung Adat
Sebuah desa asli atau rae kepue yang dipagari (atau pernah dipagari), yang didalamnya terdapat sejumlah rumah bertipe èmu rukoko, yaitu sebuah tempat ibadah dan batu-batu keramat. Pada mulanya, pagar-pagar pembatas desa ini terbuat dari tangkai tanaman sorgum, atau dari tangkai berduri pohon siwalan yang pada akhirnya diganti dengan dinding batu. Desa-desa yang telah dibatasi oleh dinding batu, dibentuk pada masa penjajahan.
1. Dimu:

Hurati: tempat yang terbentengi. Berdasarkan legenda, tempat yang terbentengi ini dibangun dalam satu malam. Menurut ingatan penduduk, ada yang mengatakan Hurati berarti ‘Surat’ (yaitu nama sebuah kota di India) dan juga ada yang mengatakan ‘Surat’ yang bermakna ‘Injil’ (makna ini ada sejak Hurati dibangun pada zaman Portugis di abad 16). Tiga tembok dibangun mengelilingi tempat ini dan terdapat gerbang yang salah satu gerbangnya dibangun dalam bentuk zig-zag. Pada tahun 1676 Hurati menolak penjajahan VOC Belanda. Desain bangunan ini menunjukkan pengaruh asing termasuk bangsa Eropa yang menjajah Hurati.
Kujiratu: desa bertembok, yang didirikan pada abad ke 17 (awal zaman VOC). Desa ini dipelihara dengan baik, memiliki sejumlah rumah tradisional, dan batu-batu keramat serta sebuah pohon keramat.

Ba, penduduk keturunan para raja Dimu selama masa penjajahan Belanda. Terdapat banyak kuburan dan bangkai meriam.

2. Liae : dalam ingatan kolektif, Liae memiliki pemukim tertua di Sabu.
Teriwu: tempat paling keramat di Sabu dan digunakan sebagai tempat ritual suku ini. Teriwu merupakan wilayah politik mandiri yang banyak dicontoh oleh wilayah lain (Seba, Mesara, Liae) sebelum kedatangan bangsa Eropa dan merupakan pusat keagamaan paling kuno untuk keseluruhan pulau. Sekarang, tidak ada lagi anggota keagamaan leluhur yang bertempat tinggal disini dan rumah para leluhur serta tempat ritual membutuhkan perbaikan (tempat ini selalu sulit untuk diakses karena begitu keramatnya). Petugas yang berwenang dalam pariwisata harus bernegosiasi mengenai hal ini dengan penduduk setempat. Di Teriwu seseorang bisa melihat laut dalam berbagai penjuru, maka dapat dikatakan tempat ini benar-benar strategis.
Ege dan Daba: tempat dimana penduduk dari keturunan raja Liae tinggal semasa zaman penjajahan Belanda. Banyak kuburan dari masa penjajahan di Ege.
Kolorame: berada diatas sebuah bukit. Tempat di mana diadakan ritual adu ayam dua kali dalam setahun dalam bulan D’ab’a dan Bangaliwu. Di bawah bukit, Raewiu, didirikan oleh Lobo Dahi (juga dikenal sebagai Nida Dahi), yang dianggap sebagai raja pertama Liae pada zaman Portugis.
Ledetalo: Tempat ini dahulu dinamai ulang menjadi Kotahawu di abad ke 18 (berasal dari ejekan dan analogi Kota Kupang). Tempat ini memiliki rumah besar asli, èmu kepue’, yang baru-baru ini dibangun ulang. Hanya beberapa tahun yang lalu, nama tempat ini kembali menjadi nama sebelumnya, Ledetalo.
3. Mesara:

Mesara Atas atau Mehara D’ida.
Di Mesara, para leluhur adalah keturunan Ie Miha yang membangun kehidupan di Pedèro (ejaan lama Pedarro). Di atas puncak bukit terdapat Kolorae (lihat galeri foto) yang memiliki posisi strategis menghadap ke laut. Disana terdapat rumah ritual Pemimpin tertinggi Mone Ama, Deo Rai. Rae Pedèro, berada di bawah bukit, daerah ini terdapat rumah ibadah milik Rue (berkedudukan kedua tertinggi diantara anggota Mone Ama Mesara) dan arena upacara keagamaan, Nada Hari (arena untuk semua; milik masyarakat). Dahulu, rumah-rumah asli (èmu kepue) milik suku-suku Mesara ini pernah berdiri disana.
Desa Ledetadu dibangun oleh leluhur Koro Dimu pada tahun 1760an. Dialah putra pertama Dimu Kore, seorang raja Mesara yang namanya ditulis di perjanjian Paravicini tahun 1756. Ledetadu seringkali dikunjungi turis yang ingin melihat-lihat rumah tradisional, pengrajin tenun tradisional dan pengrajin warna alam.
Mesara Bawah atau Mehara Wawa.
Penduduk di Mesara Bawah adalah keturunan leluhur D’ida Miha dan yang membangun masyarakat di Tanajawa, Molie dan Lobohede. Penduduk di Lobohede meluncurkan kapal upacaranya, Kowa Hole, di hari yang sama dengan orang Mesara Atas. Akan tetapi di tepian pantai yang berbeda. Setelah peluncuran, ritual adu ayam diadakan di antara Mesara Atas dan Mesara Bawah. Ritual adu ayam dipercaya sebagai pengganti perang antar suku.
Leluhur Dima Riwu dari Lobohede menjadi terkenal dalam sejarah lokal karena pernikahannya yang menyebabkan perang antara Seba dan Menia. Kejadian ini dikenang dalam sebuah cerita dan sebuah lagu. Sisa-sisa rumah tempat leluhur Dima Riwu berasal dapat dilihat di Lobohede. Lobohede saat ini lebih dikenal akan pertanian rumput lautnya.Lederaga di ujung barat Sabu merupakan desa bertembok yang memiliki batu-batu keramat yang dahulu dipersiapkan oleh para keturunan Jèka Wai (seseorang yang mungkin berasal dari Raijua). Perahu upacara untuk leluhur Jèka Wai diluncurkan 8 hari setelah bulan purnama di bulan Bangalivu (lihat upacara Hole).

4. Seba (Sabu Barat)
Namata merupakan pemukiman utama keturunan Ie Miha di Seba. Tempat ritual yang diperuntukkan untuk seluruh wilayah Seba ini memiliki megalitik-megalitik besar. Namata sebenarnya adalah nama tinggal leluhur Mone Ama (Deo Rai atau ‘Tuan Tanah’, Maukia atau ‘Pendoa Perang’, Apu Lod’o atau ‘Keturunan Anak Matahari’).
Rae Bodo: penduduk fetor (atau wakil raja) Seba. Hanya ada satu atau dua rumah yang tersisa; memiliki batu keramat ‘Bèni Ae’ atau ‘Leluhur Hebat’; terdapat gedung kecil untuk menyimpan gong ritual dan pohon nitas besar (sterculia foetida). Bodo merupakan situs seremonial tarian kuda, Pehere Jara, yang diadakan pada bulan Pebruary. Setelah kuda-kuda taboo mengelilingi pohon keramat sebanyak sembilan kali di kedua penjuru, akan ada hiburan tarian kuda untuk masyarakat umum di luar desa.
Menia: Menia kehilangan sebagian dari daratannya dikarenakan peperangan (cerita ini berhubungan dengan cerita Dima Riwu, lihat di atas). Akan tetapi, desa ini tetap mandiri dalam masalah keagamaan dan memiliki Mone Ama. Perayaan Kowa Hole diadakan 10 hari setelah bulan purnama di bulan Bangaliwu.

5. Raijua:
Bèlu, desa bertembok, memiliki sejumlah rumah leluhur; salah satu rumah tersebut terdapat ‘jaket’ (prajurit?) yang terbuat dari tenunan serat dan dikenal milik leluhur terkenal bernama Maja (nama yang mungkin terkait dengan kerajaan Majapahit).
Ketita, tempat terkeramat di Raijua dan tempat tinggal pemimpin Mone Ama, biasanya tidak dibuka untuk turis.

Sekilas tentang KENOTO
editan :Martin Richard Ronald Takalapeta
- Sebelum masuk pada prosesi Kenoto (Ihi Kenoto dan Hemata Kenoto) terlebih dahulu telah ada kesepahaman terutama dari pihak laki-laki, tentang "mahar" atau materi apa saja yang harus kita "ikat" dan kita "buka" dalam tikar adat nanti.
- Sebelum masuk ke acara Kenoto tentu terlebih dahulu ada acara "Kedakku Kelae" atau yang di kenal dengan nama "Masuk Minta" (Maho Ami). Adapun prosesi awal ini di sepakati dengan penyerahan simbol adat fase pertama:
+ Ai/ei [sarung] (sesuai udu-kerogo ana wobanni/sesuai udu-kerogo mempelai wanita) dengan berpatokan pada "Hubi Ae atau Hubi Iki" [motif pada sarung].
+ Teru'u [Cincin Tunangan] (polos tanpa ukiran, berat sesuai kemampuan pria).
+ Anting, terserah (biasa giwang).
+ Keb'ae [Kebaya] motif tak bermasalah.
+ Nalehu [Sapu Tangan] dan semua atribut kewanitaan (kususnya perangkat dalamnya).
Jika serah-terima selesai oleh ke dua "Mone Ub'a" [Juru Bicara] maka akan dilanjutkan pada fase ke-2, yaitu Kenoto, sesuai dengan kesepakatan.
- Trasdisi Do Hawu (dari pihak wanita) dalam hal ini [mahar/mas kawin/belis] tidak ada yang di titik beratkan (beban) kepada pihak lelaki, karena telah ada dan telah di ketahui bersama syarat-syarat dalam Hemata Kenoto.
- Adapun yg inti dari Mahar itu:

+ KENANA WOPAGA (Sirih yang di keringkan) dengan bentuk seperti di"sate" dan di upayakan sirih ini berbentuk lingkaran seukuran isi luasnya dalam saku (kantong) tepung terigu segitiga biru, kira-kira dimeter lingkaran 30 cm.
+ KENANA WO MURI (sirih hijau), 1/8 saku terigu.
+ KALLA WOHAD'A / WOKOMA (pinang kering yang sudah diiris-iris), dengan volume 1/2 saku terigu.
+ KALLA WOMURI / DOWOBOLO (buah pinang utuh) kira-kira 1/8 saku terigu.
+ CINCIN EMAS, polos (tidak boleh bermotif) sesuai kemampuan pihak lelaki. Yang ini bentuknya HARUS ada Kalung Emas juga. (INGAT! Ini hanya seremonial adat, tidak serta merta dituntut, kalau ada bisa di kalungkan, kalau tidak, tak mengapa).
+ "Daun Sirih". Daun sirih ini, simbol Ihi Kenoto yang sebenarnya, berupa DOI/uang yang di sesuaikan dengan kemampuan pihak laki-laki, dan dalam prosesi Hemata Kenoto, nanti akan di jelaskan berapa lembar yang kalau sekarang di kamuflase dengan hitungan 1 lembar daun sirih sama dengan Rp.100.000 nilai uang.

Adapun bawaan materi yang di sebutkan diatas,


Cara Membawa :
Dimasukan dalam saku terigu dengan susunan (dari bawah);
Kalla wohada
Kalla womuri
Kenana womuri
Kenana wopaga/lingkaran Sirih Kering
Dan "Daun Sirih" di bagian atas"lalu mulut saku terigu itu diikat dengan "Kalung Emas" (Ingat, kalau ada. Dan ini hanya simbol)

- Usai semua pembicaraan di gelar di tikar adat tersebut, maka kesepakatan dibentuk, kesepahaman telah ditemukan. (calon mempelai wanita diturunkan dari Kelaga [balai-balai *ket:rumah di Sabu adalah rumah panggung] atau keluar dari dalam kamar, untuk disematkan Cincin Nikah Adat, dan resmilah kedua mempelai sebagai suami isteri versi adat Do Hawu, dan menandatangani surat nikah adat dari desa/lurah setempat)

Acara lanjutan:
Materi yang tadi (selain daun sirih) dihamburkan di tikar adat, dan para undangan beramai-ramai rebutan.

- Masuk pada tahap akhir:
Ada metode KENOTO AGGO D'ANGNGE (ini habis acara rebutan sirih/pinang, undangan tetap duduk menunggu pai (makan) dan mempelai wanita, usai acara, langsung dibawa/diantar ke rumah mempelai pria/suaminya.

Acara KENOTO biasanya langsung dengan acara pemberkatan pernikahan kudus di gereja (nikah gereja), namun ada juga yang pemberkatan nikah di gereja setelah 2 atau
3 tahun ke depannya.



Related Post :